Coretan Hati

Meniti Jalan dengan Hati

Lagi-lagi, inikah yang dia cari?

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 3:47 pm on Kamis, Juni 19, 2008

Rinta menatap dalam-dalam lembar kertas di tangannya. Ah, itukah yang dia cari? Terlalu baik. Ia merasa dirinya tak sepadan dengan orang itu. Aktivitas dakwahnya yang luar biasa membuat Rinta mengaca dalam-dalam. Ia hanyalah gadis biasa yang masih gemar main-main dan tak pandai membagi waktu. Begitu banyak kekurangan yang ia miliki. Tapi ia berfikir bahwa itulah jalan dan cara yang ia harapkan. Bersih tanpa noda. Ia juga berharap orang yang menjadi pendampingnya bukanlah orang yang ia kenal sebelumnya.

Seperti apakah yang ia inginkan, seperti apakah? Kalaulah ia mengaca pada dirinya, maka sebenarnya ia tak berharap banyak. Tapi kalaulah ia boleh bermimpi dan berharap, maka ada hal yang ia inginkan:
Aku ingin dia yang mencintaiku karena Allah, dan aku mencintainya karena Allah. Aku ingin dia yang menyediakan waktunya bagi dakwah ini. Tak mengapa bagiku bila ia tak dapat banyak membagi waktu untukku. Aku akan mendukungnya, menyemangatinya untuk terus di jalan ini. Aku ingin agar kami bisa saling belajar lebih banyak. Aku ingin dia yang bijak dan visioner karena kutahu betapa takteraturnya aku. Aku ingin dia dapat menjadi pemimpin yang baik bagiku dan aku dapat menjadi pendamping yang baik baginya.

Rinta tersenyum atas pertanyaan mbak yang selama ini membimbingnya mengaji, apakah ia menerima kondisi orang itu. Apalah artinya fisik. Bukankah ketampanan tak menggambarkan kebaikan hati. Ia ingat beberapa temannya yang jauh dari kata tampan. Mereka begitu baik dan shalih. Rinta yakin, wanita yang mengenal mereka takkan menolak, bahkan berebut tuk menjadi pendampingnya. Karena kebanyakan wanita tidak melihat fisik seseorang. Kebaikan hati dan keshalihan jauh lebih penting dan menarik.

Bagaimanakah dengan kondisi kakinya? Dia teringat lagi percakapannya dulu ketika BPH BEMF sedang berbincang-bincang. Agus sang ketua menyatakan kekagumannya pada wanita yang bersedia menikah dengan pria yang cacat kakinya. Saat itu ia sedang membahas sebuah cerpen karya Helvy yang bercerita tentang itu. Ia ingat. Saat itu dia terheran-heran. Memang kenapa kalau ada wanita yang mau menikah dengan pria itu? Bukankah pria itu orang yang baik? Kadang dia juga bertanya-tanya dalam hati. Maukah ia menerima orang yang kekurangan dalam fisiknya sebagai pendampingnya? Kalau dia baik dan shalih, mengapa tidak? Walau memang mungkin akan sulit baginya mendapatkan restu dari kedua orangtuanya. Dari keluarga dan teman-temannya. Tapi dia tak tahu. Dia tak pernah mengalami kondisi itu sebelumnya. Bukankah tak adil bila seseorang yang mendapat apa yang tak diinginkannya harus tersisih? Bukankah kondisi seperti itu bisa menimpa siapa saja.
Ah, lagipula pria yang datanya ada di tangannya itupun baik-baik saja. Normal malah. Tak terlalu ada masalah apa-apa. Hanya sedikit kekurangan dalam cara dia berjalan karena waktu kecil pernah mengalami musibah. Masih bisa naik motor dan berlari. Lalu mengapa?

Entahlah. Hati Rinta tak merasa apa-apa. Benar-benar tak merasa apa-apa. Tak ada getar, tak ada penolakan, tak ada harap. Benar-benar tanpa rasa. Ia hanya bisa memasrahkan pada Yang Maha Cinta, karena ia yakin, semua sudah diatur. Bila memang itu yang terbaik baginya, pastikan terjadi. Bila itu bukan yang terbaik, maka semoga ukhuwah tak sirna.

Kehidupan Kedua

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 2:32 pm on Rabu, Juni 18, 2008

Dulu waktu kuliah, aku pernah berjalan melamun di rel kereta. Tanpa sadar, kereta melaju ke arahku. Kemudian, tersadar oleh suara klakson kereta yang sudah sangat dekat, aku buru-buru menepi.

Seharusnya jam hidupku sudah berhenti saat itu…

Lebih dulu lagi waktu aku kecil, aku ingin melihat kereta melintas di desa mbah buyutku. akhirnya aku berdiri di tepi rel. Rel kereta lebih tinggi dari jalan sehingga tanahnya meninggi sekitar 1 meter. kereta pun datang dan.. ternyata aku terlalu dekat sehingga angin kereta seperti menarikku keras kearah kereta. Untungnya ada tiang di sebelahku sehingga aku berpegangan erat menolak tarikan angin yang seakan-akan gravitasi itu.

Seharusnya lembaran hidupku sudah tutup saat itu…

Demikian pula, saat mau berangkat ngaji. Ketika ngerem mendadak saat hujan, motorku tergelincir dan badanku terhempas ke aspal, dan ban mobil di belakangku berhenti hanya beberapa centi dari kepalaku.

Seharusnya waktuku sudah habis saat itu…

Belum selesai… tapi cukup itu aja yang ditulis..

Aku jadi ingat gaya hutang budi orang Jepang dalam film2 kungfu atau mafia. Jika dia diselamatkan hidupnya oleh seseorang, maka dia langsung mengabdikan hidupnya untuk orang itu. mempertaruhkan nyawanya melindungi sang penyelamat sebagai rasa terima kasih.

Ya, seharusnya aku sudah mati sekarang…

Seharusnya sekarang aku merasakan kebenaran ayat-ayat Allah, lalu dengan penuh penyesalan aku memohon… Robbanaa… abshornaa wa sami’naa… farji’naa… na’mal shoolihan … innaa muuqinuun (32:12)

Seharusnya saat ini aku hanya bisa berteriak… yaa laitanii kuntu turoobaa!!! (79:40)

Dalam kesadaran seperti itu, seharusnya aku akan mengabdikan diriku SELURUHNYA untuk-Nya. Karena Allah masih memberikan aku kesempatan merasakan kehidupan kedua…

Lalu.. kenapa masih berkeluh kesah bila keinginanmu tidak terpenuhi…

kenapa masih memikirkan dirimu sendiri dan segala kebutuhannya…

kenapa masih mencari kesenangan dunia yang bukan jatahmu…

bukankah sekarang saatnya kamu berfikir keras dan berjuang gigih untuk berkontribusi mengabdi pada-Nya??

Mata yang berkhianat   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 9:10 pm on Minggu, Juni 15, 2008

Wallahu a’lamu bi khoo-inatal a’yun. Dan Allah mengetahui mata yang berkhianat.
Sungguh Allah mengujiku dengan wanita. Begitu mudahnya aku tertarik dengan mereka. Jadilah perjalananku pulang pergi ke kantor dengan motorku jadi ajang ‘cuci mata’. Tapi lama aku merasa, hasrat ini hanya semakin menggebu. Hati semakin gelisah. Bagaimana caranya agar ia bisa hilang??
Jodoh, sebagaimana takdir kematian dan rejeki adalah misteri Ilahi. Aku tahu sebagaima kematian, kita tidak akan mampu menghindar dari jodoh kita. Maka tidaklah mungkin pula kita memaksakan jodoh kita, sebagaima kematian tidak dapat dipaksa maju ataupun mundur.
Wanita yang cantik dan menarik banyak sekali, tapi belum tentu satupun dari mereka menjadi jodohku.
Karena aku sadari, kuasa itu ada ditangan-Nya. Dan Dia juga yang menyuruh berdo’a pada-Nya. Akhirnya resah itu kutuangkan dalam doa bahasa arab yang mudah-mudahan benar artinya : Allahumma inni as’aluka an taj’alaha zauji au khoiromminha..
Jadilah setiap aku tertegun akan daya tarik wanita seakan mereka menyihirku, maka do’a ini kulantunkan.
Tapi kenapa resah itu tidak juga hilang?? Aku renungkan lagi. Akhirnya aku tidak bisa menyangkal lagi. Mata ini telah berkhianat. Mata ini mencari bukannya tunduk. Mata ini ingin memuaskan hasratnya bukannya menunduk.
Tundukkan pandanganmu, begitulah firman Allah yang kucoba jalani. Benarlah, setelah itu barulah aku bisa tenang. Saat memang pandangan itu tidak bisa dihindarkan, dan daya tarik itu mulai menguasai diri maka do’a itu kulantunkan dan mata ini tunduk dengan penuh kesadaran, Allah akan kabulkan do’anya. Kalaulah tidak didunia ini karena dia mungkin memang bukanlah jodohku, walau aku menginginkannya, diakhirat kuyakini menanti balasan yang jauh lebih baik.
Ingin sekali memiliki bidadari di dunia ini. Tapi jodoh adalah misteri Ilahi. Bisa jadi Allah jatahkan untukku sebagian dari bidadari itu, maka aku ingin meraihnya hanya dengan cara yang Allah suka. Bisa jadi Allah jodohkan aku dengan wanita beriman bukan bidadari kelas dunia, tapi Allah tunda untukku disana.
Entahlah, hidupku belum berakhir. Jadi aku belum tahu keseluruhan takdir jodohku. Cuma satu yang aku inginkan. Ya Allah, aku ingin jodohku adalah bagian dari caraku untuk mengabdi-Mu.

Hafalan   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 8:33 pm on Minggu, Juni 15, 2008

Kemana mereka pergi? Hukum universal berlaku. Apa-apa yang tidak kau jaga, pelihara, perhatikan, maka janganlah kaget kalau pergi dari sisimu.
Demikianlah hafalanku. Juz 30, juz 27, juz 1, setengah juz 29, surat al anfal dan beberapa ayat pilihan. Sebagian besarnya telah pergi.
Pekan ini aku membujuk juz 27 untuk kembali. Alhamdulillah, mereka masih memberiku kesempatan.
Kenapa kita harus menghafal? Aku sadar bukanlah hafalannya itu yang penting. Walau hafalannya banyak tapi tidak menambah baik tahajudnya, buat apa?
Walau hafalannya banyak tapi tidak direnungkan, buat apa?
Hafalan yang hanya bercokol di otak, maka seperti kita belajar saat mau ulangan seperti sekolah dulu. Pas ujian kita hafal satu buku, tapi esoknya sudah lupa semua.
Hafalan yang tidak dipakai baik dalam solat atau saat kesendirian, maka tidaklah mampu melembutkan hati yang keras.
Nikmat sekali saat berangkat dan pulang kerja naik motor, lantunan hafalan menemani perjalanan. Begitulah caraku membujuk juz 27ku kembali.
Dan kini aku sadar, bila aku ingin semua hafalanku kembali dan bertambah, sekedar merenungi dalam perjalanan tidaklah cukup. Aku harus lebih menggiatkan bangun malamku. Mudah-mudahan ayat-ayat cinta dari Sang Kekasih semakin banyak menemani hatiku dan hidupku.

Cita-cita   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 8:13 pm on Minggu, Juni 15, 2008

Aku ingin menguasai minimal 5 bahasa yang paling penting di dunia saat usiaku 40 tahun. Pertama, adalah bahasa arab, kedua bahasa inggris. 3 berikutnya adalah mandarin, jepang dan prancis. Sebenarnya Aku bingung antara prancis atau india. Mugkin dua-duanya saja!
Kenapa itu yang menjadi keinginanku? Sebenarnya aku terinspirasi oleh tokoh perjuangan Indonesia H. agus Salim yang menguasai banyak bahasa dunia. Dan aku fikir negara yang menggunakan kelima bahasa itu adalah negara yang paling signifikan mempengaruhi dinamika dunia.
Selain itu, saat usiaku 40 tahun, itu sudah tahun 2018. Aku yakin sekali perkembangan dakwah Islam saat itu telah mencapai tahap dakwah kenegaraan yang cukup solid dan kokoh di Indonesia. Demikian pula di negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya. Demikian pula perkembangan Islam di Eropa dan Amerika akan semakin pesat, bahkan bisa jadi telah menjadi komunitas yang cukup diperhitungkan dalam konstelasi politik. 2018 mungkin adalah tonggak awal mulainya dakwah Islam memasuki konsolidasi Internasional untuk mewujudkan rahmatan lil ‘alamin.
Lalu kenapa 5 (atau 6) bahasa? Aku hanya ingin punya peran untuk membantu dakwah Islam saat menghadapi masa itu. Menjadi orang yang menguasai 5 bahasa dunia membuat dakwah Islam bisa diperkenalkan dengan baik ke seluruh segmen masyarakat dunia. Dan aku ingin aku adalah bagian dari peran itu.
Tapi waktu itu tidaklah lama lagi. Persiapan harus dimulai. Bahkan bahasa Inggrisku pun masih perlu banyak perbaikan. Tahun 2008 ini aku fokuskan pada 2 bahasa dasar dulu inggris dan Arab. Walau aku tidak tahu dari mana dananya, aku melangkah dengan bismillah. Mungkin saja ada orang yang ingin shodaqoh jariyah dengan ilmu bahasa mereka.
Ya Allah, inilah caraku mengabdi pada-Mu.

Meninggalkan senin   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 11:46 pm on Senin, Juni 9, 2008

Pagi ini ada sesuatu yg menggerayang kakiku.
Seperti kaki binatang, 2 kali
Aku langsung terbangun
Tapi tidak kulihat seekor binatangpun.
Allah punya cara sendiri
Bebaskan aku dari kencing syetan
Akhirnya aku bisa sholat subuh berjama’ah di musholla.
Banyak yang ingin kulakukan hari ini
Tapi sedikit yang terealisasi.
Waktu demikian cepat berlalu.

Selamat malam wahai minggu   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 10:11 pm on Minggu, Juni 8, 2008

Entahlah, apakah hari ini akan menjadi seperti hari-hari lainnya dalam hidupku.
Lain waktu akan kutulis disini sungguh hanya ada beberapa hari saja yang penting dalam hidupku
Hari yang menjadi tonggak yang menandakan aku telah lebih maju dari sebelumnya
Dan aku sudah menunggu hari seperti itu muncul kembali
Sudah terlalu lama..
Selamat malam wahai minggu..

Memulai Kembali   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 9:01 pm on Minggu, Juni 8, 2008

Yap. Aku mulai kembali membangun mimpi-mimpiku.
Mimpi yang sebagiannya takut kuingat.
Ditengah keterpurukan hidup yang kualami,
Ditengah sempitnya peluang untuk bangkit,
Entah darimana tenaga itu datang
Entah kenapa energi itu masih tersisa
Walau masih lemah, aku kan terus maju.
Meniti jalanku..menuju rido-Mu.

Akhirnya..   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 8:41 pm on Minggu, Juni 8, 2008

Alhamdulillah aku berhasil set up blog di dagdigdug. Yang membuatku tertarik adalah fasilitas mobileblog. Entah, apakah aku sesemangat itu dalam menulis. Tapi bila hasrat itu ada, maka aku tak perlu susah-susah buka laptop untuk menulis. Cukup pake hp kesayanganku se m600 ini, dengan catatan pulsaku ADA!! Hehe.. Cuma kok lelet banget ya. Mana loginnya juga sering gagal. Tapi gpp, aku coba dulu beberapa hari sebelum aku putusin lanjutin enggaknya pake blog ini.

Selamat Datang di dagdigdug

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 7:50 pm on Minggu, Juni 8, 2008

Selamat datang ke dagdigdug.com. Ini merupakan post pertama Anda. Edit atau hapus post ini, dan selanjutnya kami ucapkan selamat ber-blogging ria!

« Halaman Sebelumnya