Lagi-lagi, inikah yang dia cari?
Rinta menatap dalam-dalam lembar kertas di tangannya. Ah, itukah yang dia cari? Terlalu baik. Ia merasa dirinya tak sepadan dengan orang itu. Aktivitas dakwahnya yang luar biasa membuat Rinta mengaca dalam-dalam. Ia hanyalah gadis biasa yang masih gemar main-main dan tak pandai membagi waktu. Begitu banyak kekurangan yang ia miliki. Tapi ia berfikir bahwa itulah jalan dan cara yang ia harapkan. Bersih tanpa noda. Ia juga berharap orang yang menjadi pendampingnya bukanlah orang yang ia kenal sebelumnya.
Seperti apakah yang ia inginkan, seperti apakah? Kalaulah ia mengaca pada dirinya, maka sebenarnya ia tak berharap banyak. Tapi kalaulah ia boleh bermimpi dan berharap, maka ada hal yang ia inginkan:
Aku ingin dia yang mencintaiku karena Allah, dan aku mencintainya karena Allah. Aku ingin dia yang menyediakan waktunya bagi dakwah ini. Tak mengapa bagiku bila ia tak dapat banyak membagi waktu untukku. Aku akan mendukungnya, menyemangatinya untuk terus di jalan ini. Aku ingin agar kami bisa saling belajar lebih banyak. Aku ingin dia yang bijak dan visioner karena kutahu betapa takteraturnya aku. Aku ingin dia dapat menjadi pemimpin yang baik bagiku dan aku dapat menjadi pendamping yang baik baginya.
Rinta tersenyum atas pertanyaan mbak yang selama ini membimbingnya mengaji, apakah ia menerima kondisi orang itu. Apalah artinya fisik. Bukankah ketampanan tak menggambarkan kebaikan hati. Ia ingat beberapa temannya yang jauh dari kata tampan. Mereka begitu baik dan shalih. Rinta yakin, wanita yang mengenal mereka takkan menolak, bahkan berebut tuk menjadi pendampingnya. Karena kebanyakan wanita tidak melihat fisik seseorang. Kebaikan hati dan keshalihan jauh lebih penting dan menarik.
Bagaimanakah dengan kondisi kakinya? Dia teringat lagi percakapannya dulu ketika BPH BEMF sedang berbincang-bincang. Agus sang ketua menyatakan kekagumannya pada wanita yang bersedia menikah dengan pria yang cacat kakinya. Saat itu ia sedang membahas sebuah cerpen karya Helvy yang bercerita tentang itu. Ia ingat. Saat itu dia terheran-heran. Memang kenapa kalau ada wanita yang mau menikah dengan pria itu? Bukankah pria itu orang yang baik? Kadang dia juga bertanya-tanya dalam hati. Maukah ia menerima orang yang kekurangan dalam fisiknya sebagai pendampingnya? Kalau dia baik dan shalih, mengapa tidak? Walau memang mungkin akan sulit baginya mendapatkan restu dari kedua orangtuanya. Dari keluarga dan teman-temannya. Tapi dia tak tahu. Dia tak pernah mengalami kondisi itu sebelumnya. Bukankah tak adil bila seseorang yang mendapat apa yang tak diinginkannya harus tersisih? Bukankah kondisi seperti itu bisa menimpa siapa saja.
Ah, lagipula pria yang datanya ada di tangannya itupun baik-baik saja. Normal malah. Tak terlalu ada masalah apa-apa. Hanya sedikit kekurangan dalam cara dia berjalan karena waktu kecil pernah mengalami musibah. Masih bisa naik motor dan berlari. Lalu mengapa?
Entahlah. Hati Rinta tak merasa apa-apa. Benar-benar tak merasa apa-apa. Tak ada getar, tak ada penolakan, tak ada harap. Benar-benar tanpa rasa. Ia hanya bisa memasrahkan pada Yang Maha Cinta, karena ia yakin, semua sudah diatur. Bila memang itu yang terbaik baginya, pastikan terjadi. Bila itu bukan yang terbaik, maka semoga ukhuwah tak sirna.