<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0" xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/" xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/" xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/">
<channel>
	<title>Coretan Hati</title>
	<link>http://jalanku.dagdigdug.com</link>
	<description>Meniti Jalan dengan Hati</description>
	<pubDate>Tue, 05 Aug 2008 18:44:50 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.3.3</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Mau Pemimpin yang mana? (bag. 2) &#160;&#160; </title>
		<link>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/08/06/mau-pemimpin-yang-mana-bag-2/</link>
		<comments>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/08/06/mau-pemimpin-yang-mana-bag-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Aug 2008 18:44:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gusti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalanku.dagdigdug.com/2008/08/06/mau-pemimpin-yang-mana-bag-2/</guid>
		<description><![CDATA[Lanjutan&#8230;
Ketiga, untuk alasan yang lebih eternal, lebih tinggi, yakni untuk Allah. Orang seperti ini  tampilan luarnya dalam memimpin sama dengan golongan kedua, namun dengan orientasi yang berbeda sehingga mentalnya lebih memiliki daya tahan perjuangan yang kokoh. Dia tidak peduli atas balasan atau sikap dari rakyatnya karena yang membalasnya adalah ALlah bukan mereka. Rasulullah saw [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Lanjutan&#8230;<br />
Ketiga, untuk alasan yang lebih eternal, lebih tinggi, yakni untuk Allah. Orang seperti ini  tampilan luarnya dalam memimpin sama dengan golongan kedua, namun dengan orientasi yang berbeda sehingga mentalnya lebih memiliki daya tahan perjuangan yang kokoh. Dia tidak peduli atas balasan atau sikap dari rakyatnya karena yang membalasnya adalah ALlah bukan mereka. Rasulullah saw ketika berdakwah di Thaif dan dilempari batu, sehingga Jibril saja esmosi dan menawarkan kekuatannya untuk menghancurkan rakyat Thaif, Rasulullah saw melarang sambil menjelaskan argumentasinya bahwa keturunan mereka (cucu-cuc mereka) bisa saja beriman nantinya.<br />
Totalitas aksi perjuangan dan pengorbanan berawal dari totalitas perhatian dan cinta. Cinta pada diri sendiri (egosentris), cinta pada kemanusiaan atau cinta pada Ilahi. Menurut saya, yang pantas diperjuangkan mati-matian, dikorbankan habis-habisan haruslah berdiri pada fondasi yang abadi : cinta pada Ilahi, yang akan melahirkan banyak sekali cinta-cinta lainnya.<br />
Lalu bagaimana dengan pemuda yang kasmaran td? Golongan kedua berbuat baik kepada sang dewi karena cintanya mutlak untuk sang dewi, cinta yang menuntut kepemilikan. Golongan ketiga berbuat baik kepada sang dewi karena cintanya yang mutlak kepada Allah menyuruh dia sayang dan berbuat baik pada sang dewi. Dampaknya apa pada masing2 golongan itu, silahkan kembangkan sendiri. Sebenarnya analogi ini kurang tepat. Tapi saya sudah mengantuk, flu berat dan mules2 terus&#8230;</p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://jalanku.dagdigdug.com/?p=41&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_41" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/08/06/mau-pemimpin-yang-mana-bag-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mau pemimpin yang mana? (bag. 1). &#160;&#160; </title>
		<link>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/08/06/mau-pemimpin-yang-mana-bag-1/</link>
		<comments>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/08/06/mau-pemimpin-yang-mana-bag-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Aug 2008 18:40:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gusti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalanku.dagdigdug.com/2008/08/06/mau-pemimpin-yang-mana-bag-1/</guid>
		<description><![CDATA[Menjadi pemimpin yang sukses salah satu faktornya adalah totalitas. Totalitas dalam memberikan perhatian, perjuangan dan pengorbanan.
Muara atau ujung jalan dari totalitas ini, untuk siapa totalitas itu diberikan, terbagi minimal pada 3 hal.
Pertama, dirinya sendiri. Dia berjuang mati-matian, berkorban habis-habisan untuk dirinya sendiri. Ada calon gubernur,bupati, atau walikota paha h-1 pencoblosan membagi-bagikan milyaran uang untuk pemenangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjadi pemimpin yang sukses salah satu faktornya adalah totalitas. Totalitas dalam memberikan perhatian, perjuangan dan pengorbanan.<br />
Muara atau ujung jalan dari totalitas ini, untuk siapa totalitas itu diberikan, terbagi minimal pada 3 hal.<br />
Pertama, dirinya sendiri. Dia berjuang mati-matian, berkorban habis-habisan untuk dirinya sendiri. Ada calon gubernur,bupati, atau walikota paha h-1 pencoblosan membagi-bagikan milyaran uang untuk pemenangan dirinya. Bahasa materi dominan dipakai oleh golongan ini.<br />
Pada akhirnya kepemimpinan yang diraihnya adalah sesuai tujuannya, yakni dirinya sendiri diatas segalanya.<br />
Kedua, untuk rakyatnya. Orang2 seperti ini melebur dengan penderitaan rakyat. Jiwanya menemukan akar kegelisahan hati rakyatnya. Dia berjuang untuk kebaikan mereka. Kepemimpinan bila diraihnya akan digunakan untuk rakyat diatas kepentingan dirinya. Orang2 seperti ini fitrahnya, jiwanya masih lurus.<br />
Permasalahannya adalah tidak setiap rakyat mampu memahami idenya, dan ideal seperti dirinya. Seringkali penyakit dan permasalahan di masyarakat timbul bukan karena faktor luar seperti penindasan. Justru faktor internal masyarakat yang perlu dirubah.<br />
Masih ampuhnya jurus serangan fajar sebelum pencoblosan, bagi-bagi sembako dan duit pada h-1, atau iming2 materi lainnya membuat rakyat memiliki musuh dari dalam diri mereka sendiri.<br />
Golongan kedua ini nantinya bisa menjadi skeptis, apatis, putus asa setelah sekian lama berjuang dan berkorban, eh yang dibantu malah cuek-cuek saja. Bahkan bisa jadi karena propaganda, fitnah dan sebagainya, teman rakyat ini dianggap sebagai musuh.<br />
Ibarat seorang pemuda kasmaran dengan seorang dewi dan segala sesuatu telah ia lakukan untuk memikat sang dewi agar memilihnya menjadi suami, tapi sang dewi pergi dengan pemuda lain yang lebih ganteng, kaya dan keren walaupun sikapnya terhadap sang dewi jauh lebih buruk dari dirinya atau bahkan jauh dari definisi baik. Sang dewi berarti punya orientasi yang perlu diperbaiki.<br />
Nah, menurut anda bagaimana pemuda ini bersikap? Pergi menghilang dari kehidupan sang dewi, menjadi pengganggu rumah tangga sang dewi, bunuh diri, atau kutunggu jandamu?? Menjadi teman, musuh atau orang asing??<br />
Yang kedua ini mewakili pemikiran Steven Roger Covey dalam bukunya 7 habit dan First Thing First. Menurut saya ada yang lebih tinggi lagi.<br />
(lanjut, karena karakternya sdh mau mencapai maksimal)..</p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://jalanku.dagdigdug.com/?p=40&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_40" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/08/06/mau-pemimpin-yang-mana-bag-1/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pemimpin &#160;&#160; </title>
		<link>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/08/06/pemimpin-2/</link>
		<comments>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/08/06/pemimpin-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Aug 2008 17:17:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gusti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalanku.dagdigdug.com/2008/08/06/pemimpin-2/</guid>
		<description><![CDATA[Kepemimpinan sedang rame-ramenya dibahas oleh media. Mencari mana yang lebih baik untuk bangsa bukan perkara yang mudah walaupun semua mengklaim memiliki niat baik. Karena niat adalah benda yang tidak terlihat, maka kita tidak bisa serta merta menuduh mereka jujur atau berdusta. Perlu mekanisme pengujian terhadap ungkapan2 mereka.
Banyak indikator yang diwacanakan untuk mencari pemimpin bangsa. Ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepemimpinan sedang rame-ramenya dibahas oleh media. Mencari mana yang lebih baik untuk bangsa bukan perkara yang mudah walaupun semua mengklaim memiliki niat baik. Karena niat adalah benda yang tidak terlihat, maka kita tidak bisa serta merta menuduh mereka jujur atau berdusta. Perlu mekanisme pengujian terhadap ungkapan2 mereka.<br />
Banyak indikator yang diwacanakan untuk mencari pemimpin bangsa. Ada yang menginginkan energisitas dan kemurnian kaum muda, ada yang menginginkan pengalaman kaum tua. Entah mereka bisa atau tidak melihat sejarah, tapi sepertinya belum ada pengalaman sukses dalam memimpin bangsa keluar dari masalahnya. Ada yang menginginkan pendidikan setinggi-tinginya dan ada yang ingin ala kadarnya saja: yang penting bisa baca tulis! Entahlah mau kemana bangsa ini dibawa.<br />
Bagi saya ada satu cara yang sederhana. Lihat saja saat dia berhasil meraih kepemimpinan itu, apakah rasa gembira lebih mendominasi dirinya atau rasa beban pengabdian yang berat hadir di depan mata. Sungguh gila, jika seseorang diangkat menjadi menteri atau jabatan publik lainnya dan kemudian gembira, senang, bangga atau apalah padahal masalah begitu bertumpuk dan kompleks di depan hidungnya.<br />
Maka aneh bagi saya melihat fenomena seseorang sujud syukur diangkat menjadi menteri, menggelar tasyakuran seakan-akan dia mendapat harta karun yang melimpah (begitukah?).<br />
Orang kalau dikasih beban tentulah jiwanya akan semakin berat, sehingga aneh pula bagi saya jika ada seorang menteri menggelar tasyakuran karena presiden tidak memecat dia. Tasyakuran mencerminkan mentalitas bersyukur karena dia masih jadi menterinya jauh melebihi syukurnya kepercayaan presiden masih terjaga terhadapnya.<br />
Lihat saja bagaimana presiden kita, menteri kita, gubernur dan walikota/bupati kita saat meraih jabatannya dan saat akan dilepas dari jabatannya. Ekspresi jiwa tidak akan bisa berbohong. Apakah dia menganggap kepemimpinan sebagai kemuliaan sehingga merasa hina saat gagal meraihnya atau dicopot darinya? Atau dia menganggap kepemimpinan adalah saatnya dia berada diatas sesama bangsa lainnya? Atau dia menganggap kepemimpinan adalah saat kesejahteraan untuk dirinya bukan untuk rakyatnya? Semuanya akan terungkap saat mereka berhasil ataupun gagal meraihnya. Atau saat mereka lepas daripadanya. Kepemimpinan adalah takrim (kemuliaan) atau taklif (beban) bagi mereka? Apakah raja atau pelayan bagi rakyat mereka? Silahkan mengamati dan jangan salah pilih. Terlalu lama bangsa ini merana.</p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://jalanku.dagdigdug.com/?p=39&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_39" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/08/06/pemimpin-2/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mutiara itu &#160;&#160; </title>
		<link>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/07/04/mutiara-itu/</link>
		<comments>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/07/04/mutiara-itu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 15:26:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gusti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalanku.dagdigdug.com/2008/07/04/mutiara-itu/</guid>
		<description><![CDATA[Kutatap nama itu dihapeku. Aku tidak kenal, hanya tahu dia. Itupun sangat terbatas. Akhirnya ku sms saja sampaikan maksudku.
Ternyata dia merespon. Berjalan dengan waktu, aku makin mengenalnya. Tabir itu terkuak. Pertanyaan bertahun yang tak pernah kuhiraukan akhirnya terjawab. Aku tahu siapa dia.
Aku tahu, dia adalah muatiara yang terpendam. Aku bersemangat karena lama kucari dan kini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kutatap nama itu dihapeku. Aku tidak kenal, hanya tahu dia. Itupun sangat terbatas. Akhirnya ku sms saja sampaikan maksudku.<br />
Ternyata dia merespon. Berjalan dengan waktu, aku makin mengenalnya. Tabir itu terkuak. Pertanyaan bertahun yang tak pernah kuhiraukan akhirnya terjawab. Aku tahu siapa dia.<br />
Aku tahu, dia adalah muatiara yang terpendam. Aku bersemangat karena lama kucari dan kini kutemukan. Semoga mutiara itu bersinar semakin indah dalam dekapan sahabatku, yang telah lama mencari mutiara itu..</p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://jalanku.dagdigdug.com/?p=37&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_37" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/07/04/mutiara-itu/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Daffana &#160;&#160; </title>
		<link>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/07/04/daffana/</link>
		<comments>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/07/04/daffana/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Jul 2008 14:49:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gusti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalanku.dagdigdug.com/2008/07/04/daffana/</guid>
		<description><![CDATA[Daffa, kapan kamu menulis lagi?
Aku menunggu, tiap kali kau kukunjungi tidak ada yang berubah.
Aku ingin memahami lebih dalam lagi makhluk yang bernama.. Perempuan.
Engkau akan tahu betapa tangguhnya dia, bila engkau tahu ceritaku. Bisa jadi melampaui batas imajinasimu. Yang kuyakin juga seorang perempuan.
Berbagi
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Daffa, kapan kamu menulis lagi?<br />
Aku menunggu, tiap kali kau kukunjungi tidak ada yang berubah.<br />
Aku ingin memahami lebih dalam lagi makhluk yang bernama.. Perempuan.<br />
Engkau akan tahu betapa tangguhnya dia, bila engkau tahu ceritaku. Bisa jadi melampaui batas imajinasimu. Yang kuyakin juga seorang perempuan.</p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://jalanku.dagdigdug.com/?p=36&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_36" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/07/04/daffana/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Munajat &#160;&#160; </title>
		<link>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/06/30/munajat/</link>
		<comments>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/06/30/munajat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jun 2008 23:28:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gusti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalanku.dagdigdug.com/2008/06/30/munajat/</guid>
		<description><![CDATA[Ya Allah, aku ingin, hanya ingin semua tugas, tanggung jawab dan amanah yang Kau berikan padaku selesai.
Ya Allah aku ingin menyelesaikan semua janjiku pada makhluk-Mu.
Ya Allah aku ingin menebus segala kezalimanku.
Ya Allah bantulah aku menyelesaikan semua itu.Tanpa bantuan-Mu aku lemah, sedang diriku penuh khilaf dan salah.
Setelah itu ya Allah, aku ingin pulang. Kepada-Mu ya Allah. Aku ingin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ya Allah, aku ingin, hanya ingin semua tugas, tanggung jawab dan amanah yang Kau berikan padaku selesai.<br />
Ya Allah aku ingin menyelesaikan semua janjiku pada makhluk-Mu.<br />
Ya Allah aku ingin menebus segala kezalimanku.<br />
Ya Allah bantulah aku menyelesaikan semua itu.Tanpa bantuan-Mu aku lemah, sedang diriku penuh khilaf dan salah.<br />
Setelah itu ya Allah, aku ingin pulang. Kepada-Mu ya Allah. Aku ingin pulang dengan senyum-Mu padaku. Senyum penuh maaf dan pengampunan. Senyum penuh ridho dan kasih sayang.<br />
Waj&#8217;alil hayata ziyadatan lana fi kulli khoir waj&#8217;alil mauta rohatan lana min kulli syarr.</p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://jalanku.dagdigdug.com/?p=33&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_33" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/06/30/munajat/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Omdo &#160;&#160; </title>
		<link>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/06/27/omdo/</link>
		<comments>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/06/27/omdo/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 02:05:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gusti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalanku.dagdigdug.com/2008/06/27/omdo/</guid>
		<description><![CDATA[Bila anda sakit jantung dan anda konsultasi ke seorang dokter, anda temui orang itu sangat meyakinkan anda dalam menjelaskan penyakit anda dan bagaimana mengobatinya. Dokter itu menyuruh anda operasi. Tapi keyakinan anda terhadap dokter yang pakar bicara itu runtuh gara-gara sebuah pertanyaan sederhana: sudah berapa kali anda melakukan operasi dok? TIDAK PERNAH!!
Mobil anda mogok. Ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bila anda sakit jantung dan anda konsultasi ke seorang dokter, anda temui orang itu sangat meyakinkan anda dalam menjelaskan penyakit anda dan bagaimana mengobatinya. Dokter itu menyuruh anda operasi. Tapi keyakinan anda terhadap dokter yang pakar bicara itu runtuh gara-gara sebuah pertanyaan sederhana: sudah berapa kali anda melakukan operasi dok? TIDAK PERNAH!!<br />
Mobil anda mogok. Ada 2 orang yang berdebat apa yang rusak dan diganti atau diperbaiki. Yang pertama adalah montir yang berpengalaman menangani mobil sejenis dan masalah sejenis. Yang kedua adalah insinyur teknik elektro dengan hasil cumlaude tapi tidak pernah menservis mobil. Kepada siapa mobil anda serahkan?<br />
Demikianlah dua perumpamaan dalam mensikapi sebuah berita, argumentasi atau pendapat. Makanya ketika orang yahudi mengatakan kami adalah kekasih Allah dan bukan yang lain, cukup dijawab dengan sebuah kalimat sederhana. Kalau begitu, maka harapkanlah kematian jika kamu memang benar. Kamu akan menjumpai-Nya. Tapi orang yahudi justru selalu lari dari kematian. 62:6-7.<br />
Makanya iman selalu disanding dengan amal soleh. Karena statement iman saja tidak cukup. Harus ada pembuktian empiris akan iman, yakni amal soleh. Karena itulah, orang munafik walaupun performance dan kata-katanya mengagumkanmu tapi mereka tidak punya bukti akan statement yang diucapkannya. 63:4.<br />
Dalam dunia akademis pun sama. Yang tidak punya kapasitas keilmuan dan pengalaman empirik, tidak dapat menjadi rujukan.<br />
Lalu kepada siapakah urusan hidup dan agama kita percayakan? Selidiki, amati, perhatikan, telaah dulu amalnya dan kehidupannya, jika benar maka ikutilah kata-katanya.</p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://jalanku.dagdigdug.com/?p=32&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_32" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/06/27/omdo/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pencuri II &#160;&#160; </title>
		<link>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/06/27/pencuri-ii/</link>
		<comments>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/06/27/pencuri-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Jun 2008 00:01:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gusti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalanku.dagdigdug.com/2008/06/27/pencuri-ii/</guid>
		<description><![CDATA[semoga si tuan baik hati mau meringankan hutan gsang pencuri&#8230; (latree, latree.dagdigdug.com).
Iya. Tuan itu sangat baik. Mengingat apa yang sudah dilakukan sang pencuri, sang pencuri menyadari seandainya saja sang tuan hanya membayarnya dengan maaf, itupun sudah melebihi upah kerja yang seharusnya ia terima. Apalagi sang pencuri pun bekerja masih suka teledor, lalai bahkan malas. Sang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>semoga si tuan baik hati mau meringankan hutan gsang pencuri&#8230; (latree, latree.dagdigdug.com).<br />
Iya. Tuan itu sangat baik. Mengingat apa yang sudah dilakukan sang pencuri, sang pencuri menyadari seandainya saja sang tuan hanya membayarnya dengan maaf, itupun sudah melebihi upah kerja yang seharusnya ia terima. Apalagi sang pencuri pun bekerja masih suka teledor, lalai bahkan malas. Sang tuan sudah sepantasnya marah, tapi sang tuan tetap menerimanya dengan tangan terbuka.<br />
Seringkali bonus diberikan untuk jerih payah sang pencuri. Bahkan upahnya pun minimal 10 kali lipat lebih besar dari upah wajar untuk kerjanya. Seringkali dilipatgandakan lagi upah itu ditambah bonus-bonus. Agar sang pencuri semangat dalam taubatnya.<br />
Iya, sang tuan begitu baik. Tuan itu tidak hanya memberi kesempatan pencuri untuk bertaubat, tapi dengan uangnya sendiri ia membantu pencuri melunasi hutang-hutangnya. Padahal hutang itu dibayarkan kembali kepada sang tuan. Sstt, sang tuan pun suka diam-diam membelikan kebutuhan hidup sang pencuri. Bahkan sebagian upah yang dibayar pencuri dikembalikan untuk memenuhi kebutuhan hidup sang pencuri agar sang pencuri dapat hidup dengan kepala tegak karena tidak meminta-minta. Bagaimana sang pencuri tidak sangat bersyukur??</p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://jalanku.dagdigdug.com/?p=31&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_31" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/06/27/pencuri-ii/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sby dan tukang pijit &#160;&#160; </title>
		<link>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/06/26/sby-dan-tukang-pijit/</link>
		<comments>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/06/26/sby-dan-tukang-pijit/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 16:48:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gusti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalanku.dagdigdug.com/2008/06/26/sby-dan-tukang-pijit/</guid>
		<description><![CDATA[Bila ada kejadian, pasti ada akarnya. Rusuh monas fpi dan akkbp adalah kejadian. Kenapa bisa rusuh? Maka menyelesaikan masalah jangan reaksioner. Telusuri sebab musababnya. Satu, katanya ada provokator, dua, lambatnya pemerintah menyelesaikan ahmadiyah, bla bla bla.
Penyelesaian reaksioner dengan menangkapi fpi tidak akan menyelesaikan masalah, justru menggelinding masalah-masalah baru.
Ibarat kaki keseleo, bukan urat keseleonya yang pertama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Bila ada kejadian, pasti ada akarnya. Rusuh monas fpi dan akkbp adalah kejadian. Kenapa bisa rusuh? Maka menyelesaikan masalah jangan reaksioner. Telusuri sebab musababnya. Satu, katanya ada provokator, dua, lambatnya pemerintah menyelesaikan ahmadiyah, bla bla bla.<br />
Penyelesaian reaksioner dengan menangkapi fpi tidak akan menyelesaikan masalah, justru menggelinding masalah-masalah baru.<br />
Ibarat kaki keseleo, bukan urat keseleonya yang pertama kali dipijat, melainkan urat-urat di sekelilingnya. Bahkan bisa jadi tempat yang keseleo tidak dipijat sama sekali, atau terakhir kali.<br />
Hayo pemerintah. Sby dan jajarannya. Masa kalah dengan tukang pijit umi tetangga saya. <img src='http://jalanku.dagdigdug.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /></p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://jalanku.dagdigdug.com/?p=30&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_30" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/06/26/sby-dan-tukang-pijit/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Sakit gigi &#160;&#160; </title>
		<link>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/06/26/sakit-gigi/</link>
		<comments>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/06/26/sakit-gigi/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Jun 2008 16:36:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gusti</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalanku.dagdigdug.com/2008/06/26/sakit-gigi/</guid>
		<description><![CDATA[Terlihat mimik mukanya menahan sakit. Kenapa ustadz? Tanyaku. &#8216;iya nih, makanan dihidangkan begitu banyak, tapi gigi ini tidak bisa mengunyah. Bagaimana saya tidak bersyukur?&#8217;
Ternyata sang ustadz sedang sakit gigi. Tapi yang menarik adalah pernyataannya. Tidak ada keluhan, malahan syukur yang terucap. Kenapa? Karena Allah telah menghidangkan banyak makanan, walaupun diri tidak mampu melahap.
Berbagi
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terlihat mimik mukanya menahan sakit. Kenapa ustadz? Tanyaku. &#8216;iya nih, makanan dihidangkan begitu banyak, tapi gigi ini tidak bisa mengunyah. Bagaimana saya tidak bersyukur?&#8217;<br />
Ternyata sang ustadz sedang sakit gigi. Tapi yang menarik adalah pernyataannya. Tidak ada keluhan, malahan syukur yang terucap. Kenapa? Karena Allah telah menghidangkan banyak makanan, walaupun diri tidak mampu melahap.</p>
<p class="akst_link"><a rel="nofollow" href="http://jalanku.dagdigdug.com/?p=29&amp;akst_action=share-this"  title="E-mail this, post to del.icio.us, etc." id="akst_link_29" class="akst_share_link">Berbagi</a>
</p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalanku.dagdigdug.com/2008/06/26/sakit-gigi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

