Coretan Hati

Meniti Jalan dengan Hati

Pemimpin   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 12:17 am on Rabu, Agustus 6, 2008

Kepemimpinan sedang rame-ramenya dibahas oleh media. Mencari mana yang lebih baik untuk bangsa bukan perkara yang mudah walaupun semua mengklaim memiliki niat baik. Karena niat adalah benda yang tidak terlihat, maka kita tidak bisa serta merta menuduh mereka jujur atau berdusta. Perlu mekanisme pengujian terhadap ungkapan2 mereka.
Banyak indikator yang diwacanakan untuk mencari pemimpin bangsa. Ada yang menginginkan energisitas dan kemurnian kaum muda, ada yang menginginkan pengalaman kaum tua. Entah mereka bisa atau tidak melihat sejarah, tapi sepertinya belum ada pengalaman sukses dalam memimpin bangsa keluar dari masalahnya. Ada yang menginginkan pendidikan setinggi-tinginya dan ada yang ingin ala kadarnya saja: yang penting bisa baca tulis! Entahlah mau kemana bangsa ini dibawa.
Bagi saya ada satu cara yang sederhana. Lihat saja saat dia berhasil meraih kepemimpinan itu, apakah rasa gembira lebih mendominasi dirinya atau rasa beban pengabdian yang berat hadir di depan mata. Sungguh gila, jika seseorang diangkat menjadi menteri atau jabatan publik lainnya dan kemudian gembira, senang, bangga atau apalah padahal masalah begitu bertumpuk dan kompleks di depan hidungnya.
Maka aneh bagi saya melihat fenomena seseorang sujud syukur diangkat menjadi menteri, menggelar tasyakuran seakan-akan dia mendapat harta karun yang melimpah (begitukah?).
Orang kalau dikasih beban tentulah jiwanya akan semakin berat, sehingga aneh pula bagi saya jika ada seorang menteri menggelar tasyakuran karena presiden tidak memecat dia. Tasyakuran mencerminkan mentalitas bersyukur karena dia masih jadi menterinya jauh melebihi syukurnya kepercayaan presiden masih terjaga terhadapnya.
Lihat saja bagaimana presiden kita, menteri kita, gubernur dan walikota/bupati kita saat meraih jabatannya dan saat akan dilepas dari jabatannya. Ekspresi jiwa tidak akan bisa berbohong. Apakah dia menganggap kepemimpinan sebagai kemuliaan sehingga merasa hina saat gagal meraihnya atau dicopot darinya? Atau dia menganggap kepemimpinan adalah saatnya dia berada diatas sesama bangsa lainnya? Atau dia menganggap kepemimpinan adalah saat kesejahteraan untuk dirinya bukan untuk rakyatnya? Semuanya akan terungkap saat mereka berhasil ataupun gagal meraihnya. Atau saat mereka lepas daripadanya. Kepemimpinan adalah takrim (kemuliaan) atau taklif (beban) bagi mereka? Apakah raja atau pelayan bagi rakyat mereka? Silahkan mengamati dan jangan salah pilih. Terlalu lama bangsa ini merana.

Tidak ada Komentar »

Belum ada komentar.

RSS umpan untuk komentar-komentar dalam tulisan ini.

Tinggalkan komentar

XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>