Coretan Hati

Meniti Jalan dengan Hati

Mau Pemimpin yang mana? (bag. 2)   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 1:44 am on Rabu, Agustus 6, 2008

Lanjutan…
Ketiga, untuk alasan yang lebih eternal, lebih tinggi, yakni untuk Allah. Orang seperti ini tampilan luarnya dalam memimpin sama dengan golongan kedua, namun dengan orientasi yang berbeda sehingga mentalnya lebih memiliki daya tahan perjuangan yang kokoh. Dia tidak peduli atas balasan atau sikap dari rakyatnya karena yang membalasnya adalah ALlah bukan mereka. Rasulullah saw ketika berdakwah di Thaif dan dilempari batu, sehingga Jibril saja esmosi dan menawarkan kekuatannya untuk menghancurkan rakyat Thaif, Rasulullah saw melarang sambil menjelaskan argumentasinya bahwa keturunan mereka (cucu-cuc mereka) bisa saja beriman nantinya.
Totalitas aksi perjuangan dan pengorbanan berawal dari totalitas perhatian dan cinta. Cinta pada diri sendiri (egosentris), cinta pada kemanusiaan atau cinta pada Ilahi. Menurut saya, yang pantas diperjuangkan mati-matian, dikorbankan habis-habisan haruslah berdiri pada fondasi yang abadi : cinta pada Ilahi, yang akan melahirkan banyak sekali cinta-cinta lainnya.
Lalu bagaimana dengan pemuda yang kasmaran td? Golongan kedua berbuat baik kepada sang dewi karena cintanya mutlak untuk sang dewi, cinta yang menuntut kepemilikan. Golongan ketiga berbuat baik kepada sang dewi karena cintanya yang mutlak kepada Allah menyuruh dia sayang dan berbuat baik pada sang dewi. Dampaknya apa pada masing2 golongan itu, silahkan kembangkan sendiri. Sebenarnya analogi ini kurang tepat. Tapi saya sudah mengantuk, flu berat dan mules2 terus…

Mau pemimpin yang mana? (bag. 1).   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 1:40 am on Rabu, Agustus 6, 2008

Menjadi pemimpin yang sukses salah satu faktornya adalah totalitas. Totalitas dalam memberikan perhatian, perjuangan dan pengorbanan.
Muara atau ujung jalan dari totalitas ini, untuk siapa totalitas itu diberikan, terbagi minimal pada 3 hal.
Pertama, dirinya sendiri. Dia berjuang mati-matian, berkorban habis-habisan untuk dirinya sendiri. Ada calon gubernur,bupati, atau walikota paha h-1 pencoblosan membagi-bagikan milyaran uang untuk pemenangan dirinya. Bahasa materi dominan dipakai oleh golongan ini.
Pada akhirnya kepemimpinan yang diraihnya adalah sesuai tujuannya, yakni dirinya sendiri diatas segalanya.
Kedua, untuk rakyatnya. Orang2 seperti ini melebur dengan penderitaan rakyat. Jiwanya menemukan akar kegelisahan hati rakyatnya. Dia berjuang untuk kebaikan mereka. Kepemimpinan bila diraihnya akan digunakan untuk rakyat diatas kepentingan dirinya. Orang2 seperti ini fitrahnya, jiwanya masih lurus.
Permasalahannya adalah tidak setiap rakyat mampu memahami idenya, dan ideal seperti dirinya. Seringkali penyakit dan permasalahan di masyarakat timbul bukan karena faktor luar seperti penindasan. Justru faktor internal masyarakat yang perlu dirubah.
Masih ampuhnya jurus serangan fajar sebelum pencoblosan, bagi-bagi sembako dan duit pada h-1, atau iming2 materi lainnya membuat rakyat memiliki musuh dari dalam diri mereka sendiri.
Golongan kedua ini nantinya bisa menjadi skeptis, apatis, putus asa setelah sekian lama berjuang dan berkorban, eh yang dibantu malah cuek-cuek saja. Bahkan bisa jadi karena propaganda, fitnah dan sebagainya, teman rakyat ini dianggap sebagai musuh.
Ibarat seorang pemuda kasmaran dengan seorang dewi dan segala sesuatu telah ia lakukan untuk memikat sang dewi agar memilihnya menjadi suami, tapi sang dewi pergi dengan pemuda lain yang lebih ganteng, kaya dan keren walaupun sikapnya terhadap sang dewi jauh lebih buruk dari dirinya atau bahkan jauh dari definisi baik. Sang dewi berarti punya orientasi yang perlu diperbaiki.
Nah, menurut anda bagaimana pemuda ini bersikap? Pergi menghilang dari kehidupan sang dewi, menjadi pengganggu rumah tangga sang dewi, bunuh diri, atau kutunggu jandamu?? Menjadi teman, musuh atau orang asing??
Yang kedua ini mewakili pemikiran Steven Roger Covey dalam bukunya 7 habit dan First Thing First. Menurut saya ada yang lebih tinggi lagi.
(lanjut, karena karakternya sdh mau mencapai maksimal)..

Pemimpin   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 12:17 am on Rabu, Agustus 6, 2008

Kepemimpinan sedang rame-ramenya dibahas oleh media. Mencari mana yang lebih baik untuk bangsa bukan perkara yang mudah walaupun semua mengklaim memiliki niat baik. Karena niat adalah benda yang tidak terlihat, maka kita tidak bisa serta merta menuduh mereka jujur atau berdusta. Perlu mekanisme pengujian terhadap ungkapan2 mereka.
Banyak indikator yang diwacanakan untuk mencari pemimpin bangsa. Ada yang menginginkan energisitas dan kemurnian kaum muda, ada yang menginginkan pengalaman kaum tua. Entah mereka bisa atau tidak melihat sejarah, tapi sepertinya belum ada pengalaman sukses dalam memimpin bangsa keluar dari masalahnya. Ada yang menginginkan pendidikan setinggi-tinginya dan ada yang ingin ala kadarnya saja: yang penting bisa baca tulis! Entahlah mau kemana bangsa ini dibawa.
Bagi saya ada satu cara yang sederhana. Lihat saja saat dia berhasil meraih kepemimpinan itu, apakah rasa gembira lebih mendominasi dirinya atau rasa beban pengabdian yang berat hadir di depan mata. Sungguh gila, jika seseorang diangkat menjadi menteri atau jabatan publik lainnya dan kemudian gembira, senang, bangga atau apalah padahal masalah begitu bertumpuk dan kompleks di depan hidungnya.
Maka aneh bagi saya melihat fenomena seseorang sujud syukur diangkat menjadi menteri, menggelar tasyakuran seakan-akan dia mendapat harta karun yang melimpah (begitukah?).
Orang kalau dikasih beban tentulah jiwanya akan semakin berat, sehingga aneh pula bagi saya jika ada seorang menteri menggelar tasyakuran karena presiden tidak memecat dia. Tasyakuran mencerminkan mentalitas bersyukur karena dia masih jadi menterinya jauh melebihi syukurnya kepercayaan presiden masih terjaga terhadapnya.
Lihat saja bagaimana presiden kita, menteri kita, gubernur dan walikota/bupati kita saat meraih jabatannya dan saat akan dilepas dari jabatannya. Ekspresi jiwa tidak akan bisa berbohong. Apakah dia menganggap kepemimpinan sebagai kemuliaan sehingga merasa hina saat gagal meraihnya atau dicopot darinya? Atau dia menganggap kepemimpinan adalah saatnya dia berada diatas sesama bangsa lainnya? Atau dia menganggap kepemimpinan adalah saat kesejahteraan untuk dirinya bukan untuk rakyatnya? Semuanya akan terungkap saat mereka berhasil ataupun gagal meraihnya. Atau saat mereka lepas daripadanya. Kepemimpinan adalah takrim (kemuliaan) atau taklif (beban) bagi mereka? Apakah raja atau pelayan bagi rakyat mereka? Silahkan mengamati dan jangan salah pilih. Terlalu lama bangsa ini merana.