Cinta dan Pemberian
Allah sering menceritakan tentang ayat-ayat yang berbunyi wa lillahi mulkus samawati wal ardh 48:14. Dan milik Allah lah segala kerajaan langit dan bumi. Wa lillahi khozaa-inussamawati wal ardh 63:7. Dan milik Allah lah perbendaharaan langit dan bumi. Wa lillahi junudussamawati wal ardh 48:4. dan milik Allah lah tentara langit dan bumi.
Apa yang disampaikan oleh Allah SWT bahwa seluruh yang ada di dunia milik Dia sudah sering kita dengar. Ini adalah bagian dari aqidah yang harus kita percayai, bahwa itu benar adanya. Sedangkan kita, baik untuk diri kita maupun untuk perjuangan kita, untuk keluarga kita, untuk dakwah kita, sangat memerlukan semua apa yang disebutkan tadi.
Allah tidak akan memberi kepada orang-orang tertentu dan akan memberi kepada orang-orang tertentu. Maka kita harus tahu siapa orang-orang yang akan diberi oleh Allah. Sudah tentu yang pertama, orang-orang yang Dia beri adalah orang-orang yang Dia cintai. Allah akan mengasih juga kepada orang-orang yang dibenci, orang-orang kafir, orang-orang musyrikin, tapi dalam batasan tertentu. Tapi kepada orang yang Dia cintai, Allah akan memberikan segala-galanya. Itu sudah merupakan sebuah kepastian bahwa Allah akan memberikan segala-galanya kepada orang yang Dia cintai. Dan sifat itupun ada pada diri kita. Kalau ada orang yg kita cintai, maka semua yang kita miliki silahkan saja, dipakai, dinikmaiti dsb.
Untuk itu kita harus sering membaca ayat-ayat siapa saja yang dicintai oleh Allah. Umpamanya Allah mencintai ‘abdan syakuro (hamba yang paling pandai bersyukur), kita harus berusaha memahami syukur itu seperti apa. Allah mencintai orang yang sabar. Sabar yang dimaksudkan itu seperti apa. Allah tidak mencintai orang yang mukhtal (angkuh) dan fakhur (merasa besar/hebat).
Ada sejumlah ayat mengenai orang-orang yang dicintai dan ada sejumlah ayat mengenai orang-orang yang tidak dicintai. Orang-orang yang tidak dicintai ini karena sifat rahman Allah dikasih juga tapi limited, terbatas. Orang yang dicintai akan diberikan dan tidak terbatas.
Walaupun tetap saja Allah karena mencintai seseorang itu maka dia akan diberi sepanjang dia tidak akan jauh dari Allah. Kalau ternyata dengan pemberian membuat dia jauh dari Allah tapi tetap dikasih, namanya tidak cinta. Seperti kita mencintai istri kita, kita tidak akan membiarkan dia minta hal-hal yang justru membahayakan dia baik secara fikroh, aqidah, dll. Kita tidak akan kasih. Jangan. Nanti istri bisa begini begitu. Tapi kalau yang diminta hal-hal yang baik kita akan kasih semuanya.
Jadi kalau kita belum diberi, mungkin harapan kita yang belum dikabulkan oleh Allah itu justru membuat kita jadi jauh dari Dia. Maka kalau kita meminta sesuatu kepada Allah itu harus dipastikan bahwa ya Allah inipun kalau bisa mendekatkan aku kepadaMu, meningkatkan ibadahku dan kualitas agamaku, dan kebaikan duniaku dan akhiratku. Tapi kalau tidak, jauhkan dariku ya Allah.
Kalau meminta sesuatu kepada Allah adalah sesuatu yang justru membuat kita dekat dan membuat kita semakin menjalankan hal-hal yang Dia suka, yang Dia cintai. Tapi kalau orang-orang kafir, orang-orang yang memusuhi Allah, ya karena memang sudah dibenci, hampir semua yang dikasih menambah mereka tambah jauh. Gak dikasih tambah jauh, dikasih juga tambah jauh.
Kita harus objektif dalam hati kita harapan itu termasuk apa saja, fasilitas-fasilitas pribadi, atau keluarga, fasilitas perjuangan, capaian-capaian perjuangan, itu semuanya harus diukur bahwa kita adalah orang yang berusaha dicintai oleh Allah, dan kalau Allah tidak memberi sesuatu mungkin karena Allah takut kita semakin jauh.
Yang dicintai oleh Allah itu ada yang orientasinya ruhiyah, ubudiyah (ibadah), maidaniyah (lapangan, tataran aplikasi) dalam rangka memenuhi asbab kauniyah (sebab-sebab alam / sunnatullah). Sebab-sebab kauni itupun dicintai oleh Allah SWT. Ada perempuan yg berzina menjadi masuk sorga lantaran dia melakukan hal-hal yg dicintai oleh Allah. Dan dosanya dimaafkan, diampuni oleh Allah. Karena dia memberi minum anjing yang sedang kehausan dan mau mati. Dikasih minum dengan susah payah, anjingnya segar dan pergi. Dia menjadi masuk surga. Contoh lain Itqon (disiplin). Allah mencintai seorang hamba kalau bekerja atqonah atau ihsan (terbaik). Ini kan masalah-masalah maidani (lapangan, tataran aplikasi).
Kalau Allah sudah memberikan segala sesuatunya kepada kita… umpamanya alhilm (bijak, kalem, tenang, tidak emosional). Yu’til hilma ma la yu’til ghoirihi. Allah akan memberikan sesautu kepada orang yang halim yang tidak pernah diberikan kepada selainnya. Pemberian yang sangat istimewa, yang sangat spesial. Kita harus coba memenuhi diri kita dengan sifat-sifat yang dicintai oleh Allah SWT. Insya Allah, Allah akan kasih semuanya. Kalau ada yang kita harapkan belum diberikan mungkin faktor Allah takut, tidak mau kita menjadi jauh. Bukti cinta-Nya, kalau diberi malah semakin dekat.
Semoga kita menjadi salah satu dari hamba-hamba yang dekat dengan Allah, dan bisa menjalankan amanah dan tugas dari Allah, dan kita diberikan full facilities dari Allah untuk bisa menjalankan apa yg telah ditetapkan oleh Allah SWT.