Pegawai Allah
Memaknai diri menjadi hamba itu susah susah gampang ( atau susah?). Bekerja untuk Allah itu dipahami tapi belum tentu dapat diimplementasikan utuh. Seorang ustadz pernah bilang, bekerjalah kamu ngurusin urusan Allah, nanti Allah yang akan urusin urusan (kebutuhan) kamu. Butuh tawakkal yang tinggi. Bayangkan, jika penugasan dakwah menuntut kita keluar kerja dan harus totalitas mengurus kafilah dakwah.. Apa jawaban kita disaat kerja kita sudah stabil dan mapan? Sanggupkah hidup kita mengikuti dinamika dakwah yang kadang nyaman tapi seringkali bertabur onak duri? Ya, tiada profesi yang mapan bagi da’i karena nahnu du’at qobla kulli syai’. Bermakna seluruh profesi digunakan untuk berdakwah.. Juga bermakna mengutamakan dakwah diatas profesi.. Juga bisa bermakna meninggalkan profesi demi dakwah jika perlu.. Tapi yang jelas, orang2 yang bekerja untuk-Nya, Dia tidak akan menyia-nyiakan mereka. Jika bekerja untuk manusia saja diberi gaji dan banyak fasilitas. Tentulah Allah dengan maha-Nya dalam keadilan dan kasih sayang akan jauh lebih besar dalam membayar pegawai-Nya.