Kisah sebuah perjalanan
Pegunungan itu amat kokoh dan gagah, tampak seolah-olah benteng yang teramat kuatnya, dengan pohon-pohon yang tumbuh subur dan lebatnya, membuat siapapun yang melihatnya seakan-akan terbang tinggi bebas lepas, apalagi sinar matahari yang menerobos melewati bayang-bayang dedaunan meninggalkan kesan yang dalam, indah, tentera, penuh suasana damai, sunyi-senyap dan tenang. Sepantasnya tempat seperti itu menjadi contoh penggambaran salah satu dari taman-taman surge.
Tak lama berselang, nampak beberapa pemuda berlari menerobos melewati lembah itu, entah sudah orang keberapa dari sejumlah orang yang telah melewatinya entah sejak kapan. Pemuda itu seperti yang lainnya berlari dengan wajah yang cerah, senyum yang seakan-akan tidak pernah lepas dari wajahnya menambah kegagahannya, tidak terlalu tampan juga tidak terlalu jelek, pakaiannya putih sederhana, sekilas tampak telah melakukan perjalanan yang teramat jauh. Peluh yang membasahi dahinya, goresan luka pada tangan dan kakinya sepertinya tidak dirasakannya, kiranya semangatnya itu telah melebihi dari kekuatan jasadnya. namun ada sedikit keganjilan pada jasadnya…ternyata pada kakinya nampak seperti orang yang cacat yang terlihat secara jelas ketika ia sedang berlari. Pemuda itu termenung menatap dirinya, kemudian terdengar suara dalam pikirannya yang halus hampir seperti berbisik,  ah…sudah hampir 30 tahun dia melakukan perjalanan itu, sudah banyak gunung dan lembah dia taklukan, lautan yang luas telah dia seberangi, tak terhitung jumlah goresan luka pada tubuhnya, entah berapa lama lagi ia harus melakukan perjalanan itu sebagai pembuktian kecintaannya pada sang kekasih tertinggi yang selama ini dirindukannya.
Tiba-tiba matanya menangkap sebuah bayangan tak jauh dari tempat ia berlari, dengan kesadarannya yang luar biasa dia menghampiri bayangan itu yang ternyata adalah selembar kertas yang sepertinya sengaja ditinggalkan untuk dirinya. Dengan perasaannya yang halus, dibacanya lembar kertas itu yang ternyata ditinggalkan oleh sahabatnya yang melakukan perjalanan seperti dirinya. Tiba-tiba ia tersenyum membayangkan sahabatnya itu, tidak seperti dirinya yang melakukan perjalanan panjang seorang diri, sahabatnya telah lama melakukan perjalanannya didampingi oleh pemudi yang menjadi belahan jiwanya. Sejenak timbul perasaan ingin seperti sahabatnya itu, betapa indahnya melakukan perjalanan bersama belahan jiwanya, ada perasaan aneh yang memenuhi hasrat jiwanya, namun cepat-cepat ia buyarkan pikiran itu untuk membaca apa pesan yang ditinggalkan sahabatnya itu. Ternyata seperti telah diduga sebelumnya sahabatnya ini telah menawarkan seorang gadis untuk menjadi pendamping perjalanannya itu, sekali lagi ia membaca ternyata ia tidak mengenal gadis itu. Terlukis senyum gembira pada wajah pemuda itu seakan-akan ia hendak berkata, “inilah dia orang yang dia cari ituâ€, memang selama ini ia mencari pendamping untuk melakukan perjalanan panjang itu dengan orang yang tidak ia kenal untuk menjaga perasaan cintanya yang murni dan menggebu-gebu kepada sang kekasihnya yang tertinggi yang selama ini ia rindukan siang dan malam itu. Pemuda itupun terduduk sambil berfikir panjang, memang sudah waktunya bagi dirinya untuk menyusul sahabat yang telah mendahuluinya itu tapi timbul keraguan pada wajah pemuda itu apakah layak gadis itu bersanding dengannya yang memiliki tubuh cacat itu sedang gadis itu memiliki fisik yang seperti orang kebanyakan. Ia tidak mau gadis itu menderita batin dikemudian hari karena keadaan dirinya, ia juga tidak mau gadis itu mendampinginya hanya karena kasihan melihat keadaan dirinya, ia bertekad kalaupun gadis itu mau bersama dirinya maka harus karena cinta pada dirinya karena Robbnya. Bukan karena wajahnya, ataupun yang lainnya. Ia tidak merasa bersalah dengan keadaan dirinya karena semua yang dialaminya merupakan pemberian dari kekasihnya yang tertinggi, ia sudah menerima itu sejak ia memiliki kesadaran sebagai seorang manusia yang menghamba kepada-Nya dan ia sangat yakin setibanya ia ditempat yang dituju itu dan bertemu dengan kekasihnya yang tertinggi, ia akan diberikan kaki yang lebih baik dari yang ia punya sekarang. Tiba-tiba pemuda itu meloncat dan kembali tersenyum, apa salahnya ia mencoba dulu, yang terpenting niatnya suci karena kekasihnya semata.
Kini proses itu sudah berjalan, dan ia percaya penuh dengan gadis yang dipercaya oleh sahabat dekatnya itu. Kalaupun akhirnya gadis itu menjadi pendampingnya maka hanya rasa syukur dan bahagia yang semakin menebal pada jiwanya, kalaupun tidak maka ia tidak akan mengurangi rasa syukur dalam dirinya dan ia akan bersabar serta menerima apapun keputusan gadis itu tanpa ada perasaan negative yang berlebihan. Sekarang pun ia sudah terkagum-kagum dengan sikap gadis itu yang mau melakukan proses itu bersamanya, sungguh benar-benar gadis yang hebat, lilihnya dalam getar suara. Sekarang ia hanya menanti keputusan besar itu dengan pikiran dan jiwa yang besar. Tak lama, kembali pemuda itu sudah berlari menyusuri gunung dan lembah itu dengan wajahnya yang cerah dan senyumnya yang seakan-akan tidak pernah meninggalkan wajah itu, sambil bergumam, “ah kekasihku yang tertinggi masih lamakah perjalanan ini, aku sudah teramat rindu untuk bersama-Mu disisi-Mu bersama orang yang kucintai karena-Mu, terasa lama…ah…terasa lamaâ€. Pemuda itu melihat kesamping kanannya sambil tersenyum ternyata belum ada seorang gadis yang berada disampingnya, sambil berlari ia bergumam, “siapapun engkau yang akan mendampingiku, aku akan mencintaimu karena Robbku semata, mudah-mudahan tidak akan lama…â€