Coretan Hati

Meniti Jalan dengan Hati

Munajat   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 6:28 am on Senin, Juni 30, 2008

Ya Allah, aku ingin, hanya ingin semua tugas, tanggung jawab dan amanah yang Kau berikan padaku selesai.
Ya Allah aku ingin menyelesaikan semua janjiku pada makhluk-Mu.
Ya Allah aku ingin menebus segala kezalimanku.
Ya Allah bantulah aku menyelesaikan semua itu.Tanpa bantuan-Mu aku lemah, sedang diriku penuh khilaf dan salah.
Setelah itu ya Allah, aku ingin pulang. Kepada-Mu ya Allah. Aku ingin pulang dengan senyum-Mu padaku. Senyum penuh maaf dan pengampunan. Senyum penuh ridho dan kasih sayang.
Waj’alil hayata ziyadatan lana fi kulli khoir waj’alil mauta rohatan lana min kulli syarr.

Omdo   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 9:05 am on Jumat, Juni 27, 2008

Bila anda sakit jantung dan anda konsultasi ke seorang dokter, anda temui orang itu sangat meyakinkan anda dalam menjelaskan penyakit anda dan bagaimana mengobatinya. Dokter itu menyuruh anda operasi. Tapi keyakinan anda terhadap dokter yang pakar bicara itu runtuh gara-gara sebuah pertanyaan sederhana: sudah berapa kali anda melakukan operasi dok? TIDAK PERNAH!!
Mobil anda mogok. Ada 2 orang yang berdebat apa yang rusak dan diganti atau diperbaiki. Yang pertama adalah montir yang berpengalaman menangani mobil sejenis dan masalah sejenis. Yang kedua adalah insinyur teknik elektro dengan hasil cumlaude tapi tidak pernah menservis mobil. Kepada siapa mobil anda serahkan?
Demikianlah dua perumpamaan dalam mensikapi sebuah berita, argumentasi atau pendapat. Makanya ketika orang yahudi mengatakan kami adalah kekasih Allah dan bukan yang lain, cukup dijawab dengan sebuah kalimat sederhana. Kalau begitu, maka harapkanlah kematian jika kamu memang benar. Kamu akan menjumpai-Nya. Tapi orang yahudi justru selalu lari dari kematian. 62:6-7.
Makanya iman selalu disanding dengan amal soleh. Karena statement iman saja tidak cukup. Harus ada pembuktian empiris akan iman, yakni amal soleh. Karena itulah, orang munafik walaupun performance dan kata-katanya mengagumkanmu tapi mereka tidak punya bukti akan statement yang diucapkannya. 63:4.
Dalam dunia akademis pun sama. Yang tidak punya kapasitas keilmuan dan pengalaman empirik, tidak dapat menjadi rujukan.
Lalu kepada siapakah urusan hidup dan agama kita percayakan? Selidiki, amati, perhatikan, telaah dulu amalnya dan kehidupannya, jika benar maka ikutilah kata-katanya.

Pencuri II   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 7:01 am on Jumat, Juni 27, 2008

semoga si tuan baik hati mau meringankan hutan gsang pencuri… (latree, latree.dagdigdug.com).
Iya. Tuan itu sangat baik. Mengingat apa yang sudah dilakukan sang pencuri, sang pencuri menyadari seandainya saja sang tuan hanya membayarnya dengan maaf, itupun sudah melebihi upah kerja yang seharusnya ia terima. Apalagi sang pencuri pun bekerja masih suka teledor, lalai bahkan malas. Sang tuan sudah sepantasnya marah, tapi sang tuan tetap menerimanya dengan tangan terbuka.
Seringkali bonus diberikan untuk jerih payah sang pencuri. Bahkan upahnya pun minimal 10 kali lipat lebih besar dari upah wajar untuk kerjanya. Seringkali dilipatgandakan lagi upah itu ditambah bonus-bonus. Agar sang pencuri semangat dalam taubatnya.
Iya, sang tuan begitu baik. Tuan itu tidak hanya memberi kesempatan pencuri untuk bertaubat, tapi dengan uangnya sendiri ia membantu pencuri melunasi hutang-hutangnya. Padahal hutang itu dibayarkan kembali kepada sang tuan. Sstt, sang tuan pun suka diam-diam membelikan kebutuhan hidup sang pencuri. Bahkan sebagian upah yang dibayar pencuri dikembalikan untuk memenuhi kebutuhan hidup sang pencuri agar sang pencuri dapat hidup dengan kepala tegak karena tidak meminta-minta. Bagaimana sang pencuri tidak sangat bersyukur??

Sby dan tukang pijit   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 11:48 pm on Kamis, Juni 26, 2008

Bila ada kejadian, pasti ada akarnya. Rusuh monas fpi dan akkbp adalah kejadian. Kenapa bisa rusuh? Maka menyelesaikan masalah jangan reaksioner. Telusuri sebab musababnya. Satu, katanya ada provokator, dua, lambatnya pemerintah menyelesaikan ahmadiyah, bla bla bla.
Penyelesaian reaksioner dengan menangkapi fpi tidak akan menyelesaikan masalah, justru menggelinding masalah-masalah baru.
Ibarat kaki keseleo, bukan urat keseleonya yang pertama kali dipijat, melainkan urat-urat di sekelilingnya. Bahkan bisa jadi tempat yang keseleo tidak dipijat sama sekali, atau terakhir kali.
Hayo pemerintah. Sby dan jajarannya. Masa kalah dengan tukang pijit umi tetangga saya. :D

Sakit gigi   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 11:36 pm on Kamis, Juni 26, 2008

Terlihat mimik mukanya menahan sakit. Kenapa ustadz? Tanyaku. ‘iya nih, makanan dihidangkan begitu banyak, tapi gigi ini tidak bisa mengunyah. Bagaimana saya tidak bersyukur?’
Ternyata sang ustadz sedang sakit gigi. Tapi yang menarik adalah pernyataannya. Tidak ada keluhan, malahan syukur yang terucap. Kenapa? Karena Allah telah menghidangkan banyak makanan, walaupun diri tidak mampu melahap.

Cinta dan Pemberian

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 6:00 pm on Kamis, Juni 26, 2008

Allah sering menceritakan tentang ayat-ayat yang berbunyi wa lillahi mulkus samawati wal ardh 48:14. Dan milik Allah lah segala kerajaan langit dan bumi. Wa lillahi khozaa-inussamawati wal ardh 63:7. Dan milik Allah lah perbendaharaan langit dan bumi. Wa lillahi junudussamawati wal ardh 48:4. dan milik Allah lah tentara langit dan bumi.

Apa yang disampaikan oleh Allah SWT bahwa seluruh yang ada di dunia milik Dia sudah sering kita dengar. Ini adalah bagian dari aqidah yang harus kita percayai, bahwa itu benar adanya. Sedangkan kita, baik untuk diri kita maupun untuk perjuangan kita, untuk keluarga kita, untuk dakwah kita, sangat memerlukan semua apa yang disebutkan tadi.

Allah tidak akan memberi kepada orang-orang tertentu dan akan memberi kepada orang-orang tertentu. Maka kita harus tahu siapa orang-orang yang akan diberi oleh Allah. Sudah tentu yang pertama, orang-orang yang Dia beri adalah orang-orang yang Dia cintai. Allah akan mengasih juga kepada orang-orang yang dibenci, orang-orang kafir, orang-orang musyrikin, tapi dalam batasan tertentu. Tapi kepada orang yang Dia cintai, Allah akan memberikan segala-galanya. Itu sudah merupakan sebuah kepastian bahwa Allah akan memberikan segala-galanya kepada orang yang Dia cintai. Dan sifat itupun ada pada diri kita. Kalau ada orang yg kita cintai, maka semua yang kita miliki silahkan saja, dipakai, dinikmaiti dsb.

Untuk itu kita harus sering membaca ayat-ayat siapa saja yang dicintai oleh Allah. Umpamanya Allah mencintai ‘abdan syakuro (hamba yang paling pandai bersyukur), kita harus berusaha memahami syukur itu seperti apa. Allah mencintai orang yang sabar. Sabar yang dimaksudkan itu seperti apa. Allah tidak mencintai orang yang mukhtal (angkuh) dan fakhur (merasa besar/hebat).

Ada sejumlah ayat mengenai orang-orang yang dicintai dan ada sejumlah ayat mengenai orang-orang yang tidak dicintai. Orang-orang yang tidak dicintai ini karena sifat rahman Allah dikasih juga tapi limited, terbatas. Orang yang dicintai akan diberikan dan tidak terbatas.

Walaupun tetap saja Allah karena mencintai seseorang itu maka dia akan diberi sepanjang dia tidak akan jauh dari Allah. Kalau ternyata dengan pemberian membuat dia jauh dari Allah tapi tetap dikasih, namanya tidak cinta. Seperti kita mencintai istri kita, kita tidak akan membiarkan dia minta hal-hal yang justru membahayakan dia baik secara fikroh, aqidah, dll. Kita tidak akan kasih. Jangan. Nanti istri bisa begini begitu. Tapi kalau yang diminta hal-hal yang baik kita akan kasih semuanya.

Jadi kalau kita belum diberi, mungkin harapan kita yang belum dikabulkan oleh Allah itu justru membuat kita jadi jauh dari Dia. Maka kalau kita meminta sesuatu kepada Allah itu harus dipastikan bahwa ya Allah inipun kalau bisa mendekatkan aku kepadaMu, meningkatkan ibadahku dan kualitas agamaku, dan kebaikan duniaku dan akhiratku. Tapi kalau tidak, jauhkan dariku ya Allah.

Kalau meminta sesuatu kepada Allah adalah sesuatu yang justru membuat kita dekat dan membuat kita semakin menjalankan hal-hal yang Dia suka, yang Dia cintai. Tapi kalau orang-orang kafir, orang-orang yang memusuhi Allah, ya karena memang sudah dibenci, hampir semua yang dikasih menambah mereka tambah jauh. Gak dikasih tambah jauh, dikasih juga tambah jauh. :D

Kita harus objektif dalam hati kita harapan itu termasuk apa saja, fasilitas-fasilitas pribadi, atau keluarga, fasilitas perjuangan, capaian-capaian perjuangan, itu semuanya harus diukur bahwa kita adalah orang yang berusaha dicintai oleh Allah, dan kalau Allah tidak memberi sesuatu mungkin karena Allah takut kita semakin jauh.

Yang dicintai oleh Allah itu ada yang orientasinya ruhiyah, ubudiyah (ibadah), maidaniyah (lapangan, tataran aplikasi) dalam rangka memenuhi asbab kauniyah (sebab-sebab alam / sunnatullah). Sebab-sebab kauni itupun dicintai oleh Allah SWT. Ada perempuan yg berzina menjadi masuk sorga lantaran dia melakukan hal-hal yg dicintai oleh Allah. Dan dosanya dimaafkan, diampuni oleh Allah. Karena dia memberi minum anjing yang sedang kehausan dan mau mati. Dikasih minum dengan susah payah, anjingnya segar dan pergi. Dia menjadi masuk surga. Contoh lain Itqon (disiplin). Allah mencintai seorang hamba kalau bekerja atqonah atau ihsan (terbaik). Ini kan masalah-masalah maidani (lapangan, tataran aplikasi).

Kalau Allah sudah memberikan segala sesuatunya kepada kita… umpamanya alhilm (bijak, kalem, tenang, tidak emosional). Yu’til hilma ma la yu’til ghoirihi. Allah akan memberikan sesautu kepada orang yang halim yang tidak pernah diberikan kepada selainnya. Pemberian yang sangat istimewa, yang sangat spesial. Kita harus coba memenuhi diri kita dengan sifat-sifat yang dicintai oleh Allah SWT. Insya Allah, Allah akan kasih semuanya. Kalau ada yang kita harapkan belum diberikan mungkin faktor Allah takut, tidak mau kita menjadi jauh. Bukti cinta-Nya, kalau diberi malah semakin dekat.

Semoga kita menjadi salah satu dari hamba-hamba yang dekat dengan Allah, dan bisa menjalankan amanah dan tugas dari Allah, dan kita diberikan full facilities dari Allah untuk bisa menjalankan apa yg telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Pencuri

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 12:48 am on Kamis, Juni 26, 2008

Seorang pencuri ingin taubat. Akhirnya dia bekerja pada orang yang telah dicurinya karena tidak bisa mengembalikan curiannya. Upahnya untuk menggantikan kerugian tuannya. Maka apakah tidak kurang ajar jika pencuri tersebut meminta upah dari kerjanya? Padahal bila seumur hidup dia bekerja pun, belum tentu hutangnya akan lunas.
Maka benarlah Umar ra, aku hanya ingin impas, tidak punya pahala dan juga dosa. Tapi, bila Umar amalnya saja demikian, bagaimana dengan nasibku? Maka pantaskah aku bermimpi syurga? Bukankah terhindar dari neraka saja sudah upah yang melebihi dari yang seharusnya aku terima? Apakah aku tidak malu meminta padahal hutangku masih menggunung?

Kezaliman   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 12:32 am on Kamis, Juni 26, 2008

Aku tidak mengerti kata lain bagi sebuah kezaliman kecuali keji. Keji, kejam layak disandingkan bagi orang yang berbuat zalim. Apalagi bila sampai merusak hidup seorang manusia. Bagaimana bila ia merusak lebih banyak lagi hidup orang. Apalagi bila mereka adalah justru orang yang mencintaimu. Seandainya ada yang bisa menebus sakit itu..
Seandainya aku bisa menggantikan sakit itu dan semua kembali seperti semula..

Sejenak saja   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 12:19 am on Kamis, Juni 26, 2008

Maafkan aku kekasihku. Kadang aku memang memikirkannya. Sebentar berkhayal. Berharap. Bermimpi.
Hanya sejenak. Setelah itu aku kembali menikmati indahnya medan juang.
Maafkan aku yang belum bisa menghilangkannya dari fikiranku.
Aku masih belajar, dan kelasku masih dasar dalam perjuangan ini.

Braveheart

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 12:11 am on Kamis, Juni 26, 2008

Film ini bisa menguras air mata para pria. Demikianlah yang aku baca dalam sebuah situs berita, film ini ada dalam list.
Aku sudah nonton film ini. Ceritanya tentang kepahlawanan orang skotland dalam melawan penjajah inggris. Tapi bukan jiwa kepahlawanan yang kurasakan, malah jiwa pengecut dan penghianatan yang sangat parah melanda skotland.
Pahlawannya adalah orang yg cuek dg kondisi bangsanya dan lari dari perjuangan walaupun ayahnya mati dalam dekapan perjuangan. Pahlawan ini baru bangkit setelah kekasihnya mati dibunuh penjajah. Alih2 aku merasakan dia membela bangsanya, perilakunya lebih pada aksi balas dendam semata.
Ditambah parahnya syahwat kekuasaan dan kekayaan yang menghinggapi petinggi negeri itu. Tidak ada rakyat di skotland. Yg ada hanya tuan tanah dan para budak.
Akhirmya perjuangan kemerdekaan kandas karena aura penghianatan yg sangat kental.
Bila aku orang skotland, sama sekali aku tidak bangga dengan film yg disanjung banyak orang. Mel gibson benar2 sukses menggarap kerapuhan jiwa bangsa eropa kala itu.

The bodyguard from beijing

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 11:45 pm on Rabu, Juni 25, 2008

One of my favorit movies. Kungfu master juga. Mencapai tujuan perjuangan seringkali tidak sejalan dengan keinginan pribadi. Bahkan sampai pada mengorbankan keinginan tersebut demi perjuangan. Pesan itu aku tangkap pula pada film kartun avatar book 2. Entah endingnya gimana, karena aku lom liat book 3nya.
Kehidupan cinta pribadi mereka kandas demi cinta perjuangan. Mereka berat melakukannya. Ada sesuatu yg hilang tapi akhirnya mereka melakukannya. Atas nama apapun, apakah negara, melawan penindasan dan kezaliman, membalas dendam, mewujudkan cita-cita atau sekedar profesionalitas.
Sahabat ra jg ada yg dikisahkan baru mengalami malam pertama indahnya pernikahan, syahid malam itu juga. Syuhada yang dimandikan malaikat. Ingat al ainul mardhiyyah? Bidadari untuk sahabat yg justru meninggalkan wanita idamannya sesaat sebelum akad karena kumandang jihad. Uang maharnya ditukar dg peralatan perang. Hal jaza-ul ihsan illal ihsan. 55:60
Serupa tapi tak sama. Serupa dalam pengorbanan cinta dan hidup dalam perjuangan. Tapi tak sama karena yang satu berjuang untuk tetap hidup bersama kekasih, yang lain berjuang untuk mati berjumpa kekasih.
Yang jelas aku faham bahwa diatas cinta masih ada cinta. Dapatkanlah cinta tertinggi, karena itulah cinta sejati. Cinta itulah jiwanya cinta, sehingga tumbuhlah cinta yg lain. Walladzina amanu asyaddu hubballillah. 2:165

Orang besar   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 6:55 pm on Selasa, Juni 24, 2008

Orang besar adalah orang yang terlepas fikirannya dari kebutuhannya sendiri dan mencurahkan segala fikirnya untuk orang lain. Semakin banyak kebaikan yang ditebar ke semakin banyak orang, semakin besarlah orang itu. Pegawai Allah adalah kumpulan orang2 besar walau sebagian besar mereka tidak dikenal oleh sebagian besar manusia. Kenapa? Karena pegawai Allah telah meletakkan kebutuhan dirinya diakhir listing prioritas pikirannya. Urusan-urusan Allah telah memenuhi jiwanya. Bukan berarti dia tidak punya kebutuhan. Kebesarannya terletak pada mendahulukan tugas dan kewajibannya. Bukan berarti dia tidak peduli pada kebutuhannya. Dia yakin Allahlah yang akan mengurusnya. Diserahkan semua urusannya dalam munajat2 kepada-Nya. Sedangkan dia, dia berfikir dan bekerja bagaimana bisa memberikan sumbangsih terbaik untuk Tuannya yang alladzi kholaqolmauta walhayata liyabluakum ayyukum ahsanu ‘amala. 67:2.

Pegawai Allah   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 6:40 pm on Selasa, Juni 24, 2008

Memaknai diri menjadi hamba itu susah susah gampang ( atau susah?). Bekerja untuk Allah itu dipahami tapi belum tentu dapat diimplementasikan utuh. Seorang ustadz pernah bilang, bekerjalah kamu ngurusin urusan Allah, nanti Allah yang akan urusin urusan (kebutuhan) kamu. Butuh tawakkal yang tinggi. Bayangkan, jika penugasan dakwah menuntut kita keluar kerja dan harus totalitas mengurus kafilah dakwah.. Apa jawaban kita disaat kerja kita sudah stabil dan mapan? Sanggupkah hidup kita mengikuti dinamika dakwah yang kadang nyaman tapi seringkali bertabur onak duri? Ya, tiada profesi yang mapan bagi da’i karena nahnu du’at qobla kulli syai’. Bermakna seluruh profesi digunakan untuk berdakwah.. Juga bermakna mengutamakan dakwah diatas profesi.. Juga bisa bermakna meninggalkan profesi demi dakwah jika perlu.. Tapi yang jelas, orang2 yang bekerja untuk-Nya, Dia tidak akan menyia-nyiakan mereka. Jika bekerja untuk manusia saja diberi gaji dan banyak fasilitas. Tentulah Allah dengan maha-Nya dalam keadilan dan kasih sayang akan jauh lebih besar dalam membayar pegawai-Nya.

Kebetulan-kebetulan   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 6:21 pm on Selasa, Juni 24, 2008

Entahlah apa yang sedang terjadi. Adakah pesan dibalik kejadian sederhana yang kualami? Kalau memang tidak ada kebetulan di dunia ini, jangan sampai aku salah menangkap makna pesan. Ya sudahlah, semua kuserahkan saja pada-Nya. Karena memang tidak mungkin aku bertindak apapun terhadap apa yang kuinginkan. Sungguh rasa malu ini jauh lebih besar daripada mendapatkan apa yang kuinginkan. Mudah-mudahan rasa malu itu bagian dari iman dan pengabdianku pada-Mu ya Allah.

Kisah sebuah perjalanan

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 3:49 pm on Kamis, Juni 19, 2008

Pegunungan itu amat kokoh dan gagah, tampak seolah-olah benteng yang teramat kuatnya, dengan pohon-pohon yang tumbuh subur dan lebatnya, membuat siapapun yang melihatnya seakan-akan terbang tinggi bebas lepas, apalagi sinar matahari yang menerobos melewati bayang-bayang dedaunan meninggalkan kesan yang dalam, indah, tentera, penuh suasana damai, sunyi-senyap dan tenang. Sepantasnya tempat seperti itu menjadi contoh penggambaran salah satu dari taman-taman surge.

Tak lama berselang, nampak beberapa pemuda berlari menerobos melewati lembah itu, entah sudah orang keberapa dari sejumlah orang yang telah melewatinya entah sejak kapan. Pemuda itu seperti yang lainnya berlari dengan wajah yang cerah, senyum yang seakan-akan tidak pernah lepas dari wajahnya menambah kegagahannya, tidak terlalu tampan juga tidak terlalu jelek, pakaiannya putih sederhana, sekilas tampak telah melakukan perjalanan yang teramat jauh. Peluh yang membasahi dahinya, goresan luka pada tangan dan kakinya sepertinya tidak dirasakannya, kiranya semangatnya itu telah melebihi dari kekuatan jasadnya. namun ada sedikit keganjilan pada jasadnya…ternyata pada kakinya nampak seperti orang yang cacat yang terlihat secara jelas ketika ia sedang berlari. Pemuda itu termenung menatap dirinya, kemudian terdengar suara dalam pikirannya yang halus hampir seperti berbisik,  ah…sudah hampir 30 tahun dia melakukan perjalanan itu, sudah banyak gunung dan lembah dia taklukan, lautan yang luas telah dia seberangi, tak terhitung jumlah goresan luka pada tubuhnya, entah berapa lama lagi ia harus melakukan perjalanan itu sebagai pembuktian kecintaannya pada sang kekasih tertinggi yang selama ini dirindukannya.

Tiba-tiba matanya menangkap sebuah bayangan tak jauh dari tempat ia berlari, dengan kesadarannya yang luar biasa dia menghampiri bayangan itu yang ternyata adalah selembar kertas yang sepertinya sengaja ditinggalkan untuk dirinya. Dengan perasaannya yang halus, dibacanya lembar kertas itu yang ternyata ditinggalkan oleh sahabatnya yang melakukan perjalanan seperti dirinya. Tiba-tiba ia tersenyum membayangkan sahabatnya itu, tidak seperti dirinya yang melakukan perjalanan panjang seorang diri, sahabatnya telah lama melakukan perjalanannya didampingi oleh pemudi yang menjadi belahan jiwanya. Sejenak timbul perasaan ingin seperti sahabatnya itu, betapa indahnya melakukan perjalanan bersama belahan jiwanya, ada perasaan aneh yang memenuhi hasrat jiwanya, namun cepat-cepat ia buyarkan pikiran itu untuk membaca apa pesan yang ditinggalkan sahabatnya itu. Ternyata seperti telah diduga sebelumnya sahabatnya ini telah menawarkan seorang gadis untuk menjadi pendamping perjalanannya itu, sekali lagi ia membaca ternyata ia tidak mengenal gadis itu. Terlukis senyum gembira pada wajah pemuda itu seakan-akan ia hendak berkata, “inilah dia orang yang dia cari itu”, memang selama ini ia mencari pendamping untuk melakukan perjalanan panjang itu dengan orang yang tidak ia kenal untuk menjaga perasaan cintanya yang murni dan menggebu-gebu kepada sang kekasihnya yang tertinggi yang selama ini ia rindukan siang dan malam itu. Pemuda itupun terduduk sambil berfikir panjang, memang sudah waktunya bagi dirinya untuk menyusul sahabat yang telah mendahuluinya itu tapi timbul keraguan pada wajah pemuda itu apakah layak gadis itu bersanding dengannya yang memiliki tubuh cacat itu sedang gadis itu memiliki fisik yang seperti orang kebanyakan. Ia tidak mau gadis itu menderita batin dikemudian hari karena keadaan dirinya, ia juga tidak mau gadis itu mendampinginya hanya karena kasihan melihat keadaan dirinya, ia bertekad kalaupun gadis itu mau bersama dirinya maka harus karena cinta pada dirinya karena Robbnya. Bukan karena wajahnya, ataupun yang lainnya. Ia tidak merasa bersalah dengan keadaan dirinya karena semua yang dialaminya merupakan pemberian dari kekasihnya yang tertinggi, ia sudah menerima itu sejak ia memiliki kesadaran sebagai seorang manusia yang menghamba kepada-Nya dan ia sangat yakin setibanya ia ditempat yang dituju itu dan bertemu dengan kekasihnya yang tertinggi, ia akan diberikan kaki yang lebih baik dari yang ia punya sekarang. Tiba-tiba pemuda itu meloncat dan kembali tersenyum, apa salahnya ia mencoba dulu, yang terpenting niatnya suci karena kekasihnya semata.

Kini proses itu sudah berjalan, dan ia percaya penuh dengan gadis yang dipercaya oleh sahabat dekatnya itu. Kalaupun akhirnya gadis itu menjadi pendampingnya maka hanya rasa syukur dan bahagia yang semakin menebal pada jiwanya, kalaupun tidak maka ia tidak akan mengurangi rasa syukur dalam dirinya dan ia akan bersabar serta menerima apapun keputusan gadis itu tanpa ada perasaan negative yang berlebihan. Sekarang pun ia sudah terkagum-kagum dengan sikap gadis itu yang mau melakukan proses itu bersamanya, sungguh benar-benar gadis yang hebat, lilihnya dalam getar suara. Sekarang ia hanya menanti keputusan besar itu dengan pikiran dan jiwa yang besar. Tak lama, kembali pemuda itu sudah berlari menyusuri gunung dan lembah itu dengan wajahnya yang cerah dan senyumnya yang seakan-akan tidak pernah meninggalkan wajah itu, sambil bergumam, “ah kekasihku yang tertinggi masih lamakah perjalanan ini, aku sudah teramat rindu untuk bersama-Mu disisi-Mu bersama orang yang kucintai karena-Mu, terasa lama…ah…terasa lama”. Pemuda itu melihat kesamping kanannya sambil tersenyum ternyata belum ada seorang gadis yang berada disampingnya, sambil berlari ia bergumam, “siapapun engkau yang akan mendampingiku, aku akan mencintaimu karena Robbku semata, mudah-mudahan tidak akan lama…”

Lagi-lagi, inikah yang dia cari?

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 3:47 pm on Kamis, Juni 19, 2008

Rinta menatap dalam-dalam lembar kertas di tangannya. Ah, itukah yang dia cari? Terlalu baik. Ia merasa dirinya tak sepadan dengan orang itu. Aktivitas dakwahnya yang luar biasa membuat Rinta mengaca dalam-dalam. Ia hanyalah gadis biasa yang masih gemar main-main dan tak pandai membagi waktu. Begitu banyak kekurangan yang ia miliki. Tapi ia berfikir bahwa itulah jalan dan cara yang ia harapkan. Bersih tanpa noda. Ia juga berharap orang yang menjadi pendampingnya bukanlah orang yang ia kenal sebelumnya.

Seperti apakah yang ia inginkan, seperti apakah? Kalaulah ia mengaca pada dirinya, maka sebenarnya ia tak berharap banyak. Tapi kalaulah ia boleh bermimpi dan berharap, maka ada hal yang ia inginkan:
Aku ingin dia yang mencintaiku karena Allah, dan aku mencintainya karena Allah. Aku ingin dia yang menyediakan waktunya bagi dakwah ini. Tak mengapa bagiku bila ia tak dapat banyak membagi waktu untukku. Aku akan mendukungnya, menyemangatinya untuk terus di jalan ini. Aku ingin agar kami bisa saling belajar lebih banyak. Aku ingin dia yang bijak dan visioner karena kutahu betapa takteraturnya aku. Aku ingin dia dapat menjadi pemimpin yang baik bagiku dan aku dapat menjadi pendamping yang baik baginya.

Rinta tersenyum atas pertanyaan mbak yang selama ini membimbingnya mengaji, apakah ia menerima kondisi orang itu. Apalah artinya fisik. Bukankah ketampanan tak menggambarkan kebaikan hati. Ia ingat beberapa temannya yang jauh dari kata tampan. Mereka begitu baik dan shalih. Rinta yakin, wanita yang mengenal mereka takkan menolak, bahkan berebut tuk menjadi pendampingnya. Karena kebanyakan wanita tidak melihat fisik seseorang. Kebaikan hati dan keshalihan jauh lebih penting dan menarik.

Bagaimanakah dengan kondisi kakinya? Dia teringat lagi percakapannya dulu ketika BPH BEMF sedang berbincang-bincang. Agus sang ketua menyatakan kekagumannya pada wanita yang bersedia menikah dengan pria yang cacat kakinya. Saat itu ia sedang membahas sebuah cerpen karya Helvy yang bercerita tentang itu. Ia ingat. Saat itu dia terheran-heran. Memang kenapa kalau ada wanita yang mau menikah dengan pria itu? Bukankah pria itu orang yang baik? Kadang dia juga bertanya-tanya dalam hati. Maukah ia menerima orang yang kekurangan dalam fisiknya sebagai pendampingnya? Kalau dia baik dan shalih, mengapa tidak? Walau memang mungkin akan sulit baginya mendapatkan restu dari kedua orangtuanya. Dari keluarga dan teman-temannya. Tapi dia tak tahu. Dia tak pernah mengalami kondisi itu sebelumnya. Bukankah tak adil bila seseorang yang mendapat apa yang tak diinginkannya harus tersisih? Bukankah kondisi seperti itu bisa menimpa siapa saja.
Ah, lagipula pria yang datanya ada di tangannya itupun baik-baik saja. Normal malah. Tak terlalu ada masalah apa-apa. Hanya sedikit kekurangan dalam cara dia berjalan karena waktu kecil pernah mengalami musibah. Masih bisa naik motor dan berlari. Lalu mengapa?

Entahlah. Hati Rinta tak merasa apa-apa. Benar-benar tak merasa apa-apa. Tak ada getar, tak ada penolakan, tak ada harap. Benar-benar tanpa rasa. Ia hanya bisa memasrahkan pada Yang Maha Cinta, karena ia yakin, semua sudah diatur. Bila memang itu yang terbaik baginya, pastikan terjadi. Bila itu bukan yang terbaik, maka semoga ukhuwah tak sirna.

Kehidupan Kedua

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 2:32 pm on Rabu, Juni 18, 2008

Dulu waktu kuliah, aku pernah berjalan melamun di rel kereta. Tanpa sadar, kereta melaju ke arahku. Kemudian, tersadar oleh suara klakson kereta yang sudah sangat dekat, aku buru-buru menepi.

Seharusnya jam hidupku sudah berhenti saat itu…

Lebih dulu lagi waktu aku kecil, aku ingin melihat kereta melintas di desa mbah buyutku. akhirnya aku berdiri di tepi rel. Rel kereta lebih tinggi dari jalan sehingga tanahnya meninggi sekitar 1 meter. kereta pun datang dan.. ternyata aku terlalu dekat sehingga angin kereta seperti menarikku keras kearah kereta. Untungnya ada tiang di sebelahku sehingga aku berpegangan erat menolak tarikan angin yang seakan-akan gravitasi itu.

Seharusnya lembaran hidupku sudah tutup saat itu…

Demikian pula, saat mau berangkat ngaji. Ketika ngerem mendadak saat hujan, motorku tergelincir dan badanku terhempas ke aspal, dan ban mobil di belakangku berhenti hanya beberapa centi dari kepalaku.

Seharusnya waktuku sudah habis saat itu…

Belum selesai… tapi cukup itu aja yang ditulis..

Aku jadi ingat gaya hutang budi orang Jepang dalam film2 kungfu atau mafia. Jika dia diselamatkan hidupnya oleh seseorang, maka dia langsung mengabdikan hidupnya untuk orang itu. mempertaruhkan nyawanya melindungi sang penyelamat sebagai rasa terima kasih.

Ya, seharusnya aku sudah mati sekarang…

Seharusnya sekarang aku merasakan kebenaran ayat-ayat Allah, lalu dengan penuh penyesalan aku memohon… Robbanaa… abshornaa wa sami’naa… farji’naa… na’mal shoolihan … innaa muuqinuun (32:12)

Seharusnya saat ini aku hanya bisa berteriak… yaa laitanii kuntu turoobaa!!! (79:40)

Dalam kesadaran seperti itu, seharusnya aku akan mengabdikan diriku SELURUHNYA untuk-Nya. Karena Allah masih memberikan aku kesempatan merasakan kehidupan kedua…

Lalu.. kenapa masih berkeluh kesah bila keinginanmu tidak terpenuhi…

kenapa masih memikirkan dirimu sendiri dan segala kebutuhannya…

kenapa masih mencari kesenangan dunia yang bukan jatahmu…

bukankah sekarang saatnya kamu berfikir keras dan berjuang gigih untuk berkontribusi mengabdi pada-Nya??

Mata yang berkhianat   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 9:10 pm on Minggu, Juni 15, 2008

Wallahu a’lamu bi khoo-inatal a’yun. Dan Allah mengetahui mata yang berkhianat.
Sungguh Allah mengujiku dengan wanita. Begitu mudahnya aku tertarik dengan mereka. Jadilah perjalananku pulang pergi ke kantor dengan motorku jadi ajang ‘cuci mata’. Tapi lama aku merasa, hasrat ini hanya semakin menggebu. Hati semakin gelisah. Bagaimana caranya agar ia bisa hilang??
Jodoh, sebagaimana takdir kematian dan rejeki adalah misteri Ilahi. Aku tahu sebagaima kematian, kita tidak akan mampu menghindar dari jodoh kita. Maka tidaklah mungkin pula kita memaksakan jodoh kita, sebagaima kematian tidak dapat dipaksa maju ataupun mundur.
Wanita yang cantik dan menarik banyak sekali, tapi belum tentu satupun dari mereka menjadi jodohku.
Karena aku sadari, kuasa itu ada ditangan-Nya. Dan Dia juga yang menyuruh berdo’a pada-Nya. Akhirnya resah itu kutuangkan dalam doa bahasa arab yang mudah-mudahan benar artinya : Allahumma inni as’aluka an taj’alaha zauji au khoiromminha..
Jadilah setiap aku tertegun akan daya tarik wanita seakan mereka menyihirku, maka do’a ini kulantunkan.
Tapi kenapa resah itu tidak juga hilang?? Aku renungkan lagi. Akhirnya aku tidak bisa menyangkal lagi. Mata ini telah berkhianat. Mata ini mencari bukannya tunduk. Mata ini ingin memuaskan hasratnya bukannya menunduk.
Tundukkan pandanganmu, begitulah firman Allah yang kucoba jalani. Benarlah, setelah itu barulah aku bisa tenang. Saat memang pandangan itu tidak bisa dihindarkan, dan daya tarik itu mulai menguasai diri maka do’a itu kulantunkan dan mata ini tunduk dengan penuh kesadaran, Allah akan kabulkan do’anya. Kalaulah tidak didunia ini karena dia mungkin memang bukanlah jodohku, walau aku menginginkannya, diakhirat kuyakini menanti balasan yang jauh lebih baik.
Ingin sekali memiliki bidadari di dunia ini. Tapi jodoh adalah misteri Ilahi. Bisa jadi Allah jatahkan untukku sebagian dari bidadari itu, maka aku ingin meraihnya hanya dengan cara yang Allah suka. Bisa jadi Allah jodohkan aku dengan wanita beriman bukan bidadari kelas dunia, tapi Allah tunda untukku disana.
Entahlah, hidupku belum berakhir. Jadi aku belum tahu keseluruhan takdir jodohku. Cuma satu yang aku inginkan. Ya Allah, aku ingin jodohku adalah bagian dari caraku untuk mengabdi-Mu.

Hafalan   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 8:33 pm on Minggu, Juni 15, 2008

Kemana mereka pergi? Hukum universal berlaku. Apa-apa yang tidak kau jaga, pelihara, perhatikan, maka janganlah kaget kalau pergi dari sisimu.
Demikianlah hafalanku. Juz 30, juz 27, juz 1, setengah juz 29, surat al anfal dan beberapa ayat pilihan. Sebagian besarnya telah pergi.
Pekan ini aku membujuk juz 27 untuk kembali. Alhamdulillah, mereka masih memberiku kesempatan.
Kenapa kita harus menghafal? Aku sadar bukanlah hafalannya itu yang penting. Walau hafalannya banyak tapi tidak menambah baik tahajudnya, buat apa?
Walau hafalannya banyak tapi tidak direnungkan, buat apa?
Hafalan yang hanya bercokol di otak, maka seperti kita belajar saat mau ulangan seperti sekolah dulu. Pas ujian kita hafal satu buku, tapi esoknya sudah lupa semua.
Hafalan yang tidak dipakai baik dalam solat atau saat kesendirian, maka tidaklah mampu melembutkan hati yang keras.
Nikmat sekali saat berangkat dan pulang kerja naik motor, lantunan hafalan menemani perjalanan. Begitulah caraku membujuk juz 27ku kembali.
Dan kini aku sadar, bila aku ingin semua hafalanku kembali dan bertambah, sekedar merenungi dalam perjalanan tidaklah cukup. Aku harus lebih menggiatkan bangun malamku. Mudah-mudahan ayat-ayat cinta dari Sang Kekasih semakin banyak menemani hatiku dan hidupku.

Cita-cita   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 8:13 pm on Minggu, Juni 15, 2008

Aku ingin menguasai minimal 5 bahasa yang paling penting di dunia saat usiaku 40 tahun. Pertama, adalah bahasa arab, kedua bahasa inggris. 3 berikutnya adalah mandarin, jepang dan prancis. Sebenarnya Aku bingung antara prancis atau india. Mugkin dua-duanya saja!
Kenapa itu yang menjadi keinginanku? Sebenarnya aku terinspirasi oleh tokoh perjuangan Indonesia H. agus Salim yang menguasai banyak bahasa dunia. Dan aku fikir negara yang menggunakan kelima bahasa itu adalah negara yang paling signifikan mempengaruhi dinamika dunia.
Selain itu, saat usiaku 40 tahun, itu sudah tahun 2018. Aku yakin sekali perkembangan dakwah Islam saat itu telah mencapai tahap dakwah kenegaraan yang cukup solid dan kokoh di Indonesia. Demikian pula di negara berpenduduk mayoritas muslim lainnya. Demikian pula perkembangan Islam di Eropa dan Amerika akan semakin pesat, bahkan bisa jadi telah menjadi komunitas yang cukup diperhitungkan dalam konstelasi politik. 2018 mungkin adalah tonggak awal mulainya dakwah Islam memasuki konsolidasi Internasional untuk mewujudkan rahmatan lil ‘alamin.
Lalu kenapa 5 (atau 6) bahasa? Aku hanya ingin punya peran untuk membantu dakwah Islam saat menghadapi masa itu. Menjadi orang yang menguasai 5 bahasa dunia membuat dakwah Islam bisa diperkenalkan dengan baik ke seluruh segmen masyarakat dunia. Dan aku ingin aku adalah bagian dari peran itu.
Tapi waktu itu tidaklah lama lagi. Persiapan harus dimulai. Bahkan bahasa Inggrisku pun masih perlu banyak perbaikan. Tahun 2008 ini aku fokuskan pada 2 bahasa dasar dulu inggris dan Arab. Walau aku tidak tahu dari mana dananya, aku melangkah dengan bismillah. Mungkin saja ada orang yang ingin shodaqoh jariyah dengan ilmu bahasa mereka.
Ya Allah, inilah caraku mengabdi pada-Mu.

Halaman Berikutnya »