Coretan Hati

Meniti Jalan dengan Hati

Mau Pemimpin yang mana? (bag. 2)   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 1:44 am on Rabu, Agustus 6, 2008

Lanjutan…
Ketiga, untuk alasan yang lebih eternal, lebih tinggi, yakni untuk Allah. Orang seperti ini tampilan luarnya dalam memimpin sama dengan golongan kedua, namun dengan orientasi yang berbeda sehingga mentalnya lebih memiliki daya tahan perjuangan yang kokoh. Dia tidak peduli atas balasan atau sikap dari rakyatnya karena yang membalasnya adalah ALlah bukan mereka. Rasulullah saw ketika berdakwah di Thaif dan dilempari batu, sehingga Jibril saja esmosi dan menawarkan kekuatannya untuk menghancurkan rakyat Thaif, Rasulullah saw melarang sambil menjelaskan argumentasinya bahwa keturunan mereka (cucu-cuc mereka) bisa saja beriman nantinya.
Totalitas aksi perjuangan dan pengorbanan berawal dari totalitas perhatian dan cinta. Cinta pada diri sendiri (egosentris), cinta pada kemanusiaan atau cinta pada Ilahi. Menurut saya, yang pantas diperjuangkan mati-matian, dikorbankan habis-habisan haruslah berdiri pada fondasi yang abadi : cinta pada Ilahi, yang akan melahirkan banyak sekali cinta-cinta lainnya.
Lalu bagaimana dengan pemuda yang kasmaran td? Golongan kedua berbuat baik kepada sang dewi karena cintanya mutlak untuk sang dewi, cinta yang menuntut kepemilikan. Golongan ketiga berbuat baik kepada sang dewi karena cintanya yang mutlak kepada Allah menyuruh dia sayang dan berbuat baik pada sang dewi. Dampaknya apa pada masing2 golongan itu, silahkan kembangkan sendiri. Sebenarnya analogi ini kurang tepat. Tapi saya sudah mengantuk, flu berat dan mules2 terus…

Mau pemimpin yang mana? (bag. 1).   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 1:40 am on Rabu, Agustus 6, 2008

Menjadi pemimpin yang sukses salah satu faktornya adalah totalitas. Totalitas dalam memberikan perhatian, perjuangan dan pengorbanan.
Muara atau ujung jalan dari totalitas ini, untuk siapa totalitas itu diberikan, terbagi minimal pada 3 hal.
Pertama, dirinya sendiri. Dia berjuang mati-matian, berkorban habis-habisan untuk dirinya sendiri. Ada calon gubernur,bupati, atau walikota paha h-1 pencoblosan membagi-bagikan milyaran uang untuk pemenangan dirinya. Bahasa materi dominan dipakai oleh golongan ini.
Pada akhirnya kepemimpinan yang diraihnya adalah sesuai tujuannya, yakni dirinya sendiri diatas segalanya.
Kedua, untuk rakyatnya. Orang2 seperti ini melebur dengan penderitaan rakyat. Jiwanya menemukan akar kegelisahan hati rakyatnya. Dia berjuang untuk kebaikan mereka. Kepemimpinan bila diraihnya akan digunakan untuk rakyat diatas kepentingan dirinya. Orang2 seperti ini fitrahnya, jiwanya masih lurus.
Permasalahannya adalah tidak setiap rakyat mampu memahami idenya, dan ideal seperti dirinya. Seringkali penyakit dan permasalahan di masyarakat timbul bukan karena faktor luar seperti penindasan. Justru faktor internal masyarakat yang perlu dirubah.
Masih ampuhnya jurus serangan fajar sebelum pencoblosan, bagi-bagi sembako dan duit pada h-1, atau iming2 materi lainnya membuat rakyat memiliki musuh dari dalam diri mereka sendiri.
Golongan kedua ini nantinya bisa menjadi skeptis, apatis, putus asa setelah sekian lama berjuang dan berkorban, eh yang dibantu malah cuek-cuek saja. Bahkan bisa jadi karena propaganda, fitnah dan sebagainya, teman rakyat ini dianggap sebagai musuh.
Ibarat seorang pemuda kasmaran dengan seorang dewi dan segala sesuatu telah ia lakukan untuk memikat sang dewi agar memilihnya menjadi suami, tapi sang dewi pergi dengan pemuda lain yang lebih ganteng, kaya dan keren walaupun sikapnya terhadap sang dewi jauh lebih buruk dari dirinya atau bahkan jauh dari definisi baik. Sang dewi berarti punya orientasi yang perlu diperbaiki.
Nah, menurut anda bagaimana pemuda ini bersikap? Pergi menghilang dari kehidupan sang dewi, menjadi pengganggu rumah tangga sang dewi, bunuh diri, atau kutunggu jandamu?? Menjadi teman, musuh atau orang asing??
Yang kedua ini mewakili pemikiran Steven Roger Covey dalam bukunya 7 habit dan First Thing First. Menurut saya ada yang lebih tinggi lagi.
(lanjut, karena karakternya sdh mau mencapai maksimal)..

Pemimpin   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 12:17 am on Rabu, Agustus 6, 2008

Kepemimpinan sedang rame-ramenya dibahas oleh media. Mencari mana yang lebih baik untuk bangsa bukan perkara yang mudah walaupun semua mengklaim memiliki niat baik. Karena niat adalah benda yang tidak terlihat, maka kita tidak bisa serta merta menuduh mereka jujur atau berdusta. Perlu mekanisme pengujian terhadap ungkapan2 mereka.
Banyak indikator yang diwacanakan untuk mencari pemimpin bangsa. Ada yang menginginkan energisitas dan kemurnian kaum muda, ada yang menginginkan pengalaman kaum tua. Entah mereka bisa atau tidak melihat sejarah, tapi sepertinya belum ada pengalaman sukses dalam memimpin bangsa keluar dari masalahnya. Ada yang menginginkan pendidikan setinggi-tinginya dan ada yang ingin ala kadarnya saja: yang penting bisa baca tulis! Entahlah mau kemana bangsa ini dibawa.
Bagi saya ada satu cara yang sederhana. Lihat saja saat dia berhasil meraih kepemimpinan itu, apakah rasa gembira lebih mendominasi dirinya atau rasa beban pengabdian yang berat hadir di depan mata. Sungguh gila, jika seseorang diangkat menjadi menteri atau jabatan publik lainnya dan kemudian gembira, senang, bangga atau apalah padahal masalah begitu bertumpuk dan kompleks di depan hidungnya.
Maka aneh bagi saya melihat fenomena seseorang sujud syukur diangkat menjadi menteri, menggelar tasyakuran seakan-akan dia mendapat harta karun yang melimpah (begitukah?).
Orang kalau dikasih beban tentulah jiwanya akan semakin berat, sehingga aneh pula bagi saya jika ada seorang menteri menggelar tasyakuran karena presiden tidak memecat dia. Tasyakuran mencerminkan mentalitas bersyukur karena dia masih jadi menterinya jauh melebihi syukurnya kepercayaan presiden masih terjaga terhadapnya.
Lihat saja bagaimana presiden kita, menteri kita, gubernur dan walikota/bupati kita saat meraih jabatannya dan saat akan dilepas dari jabatannya. Ekspresi jiwa tidak akan bisa berbohong. Apakah dia menganggap kepemimpinan sebagai kemuliaan sehingga merasa hina saat gagal meraihnya atau dicopot darinya? Atau dia menganggap kepemimpinan adalah saatnya dia berada diatas sesama bangsa lainnya? Atau dia menganggap kepemimpinan adalah saat kesejahteraan untuk dirinya bukan untuk rakyatnya? Semuanya akan terungkap saat mereka berhasil ataupun gagal meraihnya. Atau saat mereka lepas daripadanya. Kepemimpinan adalah takrim (kemuliaan) atau taklif (beban) bagi mereka? Apakah raja atau pelayan bagi rakyat mereka? Silahkan mengamati dan jangan salah pilih. Terlalu lama bangsa ini merana.

Mutiara itu   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 10:26 pm on Jumat, Juli 4, 2008

Kutatap nama itu dihapeku. Aku tidak kenal, hanya tahu dia. Itupun sangat terbatas. Akhirnya ku sms saja sampaikan maksudku.
Ternyata dia merespon. Berjalan dengan waktu, aku makin mengenalnya. Tabir itu terkuak. Pertanyaan bertahun yang tak pernah kuhiraukan akhirnya terjawab. Aku tahu siapa dia.
Aku tahu, dia adalah muatiara yang terpendam. Aku bersemangat karena lama kucari dan kini kutemukan. Semoga mutiara itu bersinar semakin indah dalam dekapan sahabatku, yang telah lama mencari mutiara itu..

Daffana   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 9:49 pm on Jumat, Juli 4, 2008

Daffa, kapan kamu menulis lagi?
Aku menunggu, tiap kali kau kukunjungi tidak ada yang berubah.
Aku ingin memahami lebih dalam lagi makhluk yang bernama.. Perempuan.
Engkau akan tahu betapa tangguhnya dia, bila engkau tahu ceritaku. Bisa jadi melampaui batas imajinasimu. Yang kuyakin juga seorang perempuan.

Munajat   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 6:28 am on Senin, Juni 30, 2008

Ya Allah, aku ingin, hanya ingin semua tugas, tanggung jawab dan amanah yang Kau berikan padaku selesai.
Ya Allah aku ingin menyelesaikan semua janjiku pada makhluk-Mu.
Ya Allah aku ingin menebus segala kezalimanku.
Ya Allah bantulah aku menyelesaikan semua itu.Tanpa bantuan-Mu aku lemah, sedang diriku penuh khilaf dan salah.
Setelah itu ya Allah, aku ingin pulang. Kepada-Mu ya Allah. Aku ingin pulang dengan senyum-Mu padaku. Senyum penuh maaf dan pengampunan. Senyum penuh ridho dan kasih sayang.
Waj’alil hayata ziyadatan lana fi kulli khoir waj’alil mauta rohatan lana min kulli syarr.

Omdo   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 9:05 am on Jumat, Juni 27, 2008

Bila anda sakit jantung dan anda konsultasi ke seorang dokter, anda temui orang itu sangat meyakinkan anda dalam menjelaskan penyakit anda dan bagaimana mengobatinya. Dokter itu menyuruh anda operasi. Tapi keyakinan anda terhadap dokter yang pakar bicara itu runtuh gara-gara sebuah pertanyaan sederhana: sudah berapa kali anda melakukan operasi dok? TIDAK PERNAH!!
Mobil anda mogok. Ada 2 orang yang berdebat apa yang rusak dan diganti atau diperbaiki. Yang pertama adalah montir yang berpengalaman menangani mobil sejenis dan masalah sejenis. Yang kedua adalah insinyur teknik elektro dengan hasil cumlaude tapi tidak pernah menservis mobil. Kepada siapa mobil anda serahkan?
Demikianlah dua perumpamaan dalam mensikapi sebuah berita, argumentasi atau pendapat. Makanya ketika orang yahudi mengatakan kami adalah kekasih Allah dan bukan yang lain, cukup dijawab dengan sebuah kalimat sederhana. Kalau begitu, maka harapkanlah kematian jika kamu memang benar. Kamu akan menjumpai-Nya. Tapi orang yahudi justru selalu lari dari kematian. 62:6-7.
Makanya iman selalu disanding dengan amal soleh. Karena statement iman saja tidak cukup. Harus ada pembuktian empiris akan iman, yakni amal soleh. Karena itulah, orang munafik walaupun performance dan kata-katanya mengagumkanmu tapi mereka tidak punya bukti akan statement yang diucapkannya. 63:4.
Dalam dunia akademis pun sama. Yang tidak punya kapasitas keilmuan dan pengalaman empirik, tidak dapat menjadi rujukan.
Lalu kepada siapakah urusan hidup dan agama kita percayakan? Selidiki, amati, perhatikan, telaah dulu amalnya dan kehidupannya, jika benar maka ikutilah kata-katanya.

Pencuri II   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 7:01 am on Jumat, Juni 27, 2008

semoga si tuan baik hati mau meringankan hutan gsang pencuri… (latree, latree.dagdigdug.com).
Iya. Tuan itu sangat baik. Mengingat apa yang sudah dilakukan sang pencuri, sang pencuri menyadari seandainya saja sang tuan hanya membayarnya dengan maaf, itupun sudah melebihi upah kerja yang seharusnya ia terima. Apalagi sang pencuri pun bekerja masih suka teledor, lalai bahkan malas. Sang tuan sudah sepantasnya marah, tapi sang tuan tetap menerimanya dengan tangan terbuka.
Seringkali bonus diberikan untuk jerih payah sang pencuri. Bahkan upahnya pun minimal 10 kali lipat lebih besar dari upah wajar untuk kerjanya. Seringkali dilipatgandakan lagi upah itu ditambah bonus-bonus. Agar sang pencuri semangat dalam taubatnya.
Iya, sang tuan begitu baik. Tuan itu tidak hanya memberi kesempatan pencuri untuk bertaubat, tapi dengan uangnya sendiri ia membantu pencuri melunasi hutang-hutangnya. Padahal hutang itu dibayarkan kembali kepada sang tuan. Sstt, sang tuan pun suka diam-diam membelikan kebutuhan hidup sang pencuri. Bahkan sebagian upah yang dibayar pencuri dikembalikan untuk memenuhi kebutuhan hidup sang pencuri agar sang pencuri dapat hidup dengan kepala tegak karena tidak meminta-minta. Bagaimana sang pencuri tidak sangat bersyukur??

Sby dan tukang pijit   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 11:48 pm on Kamis, Juni 26, 2008

Bila ada kejadian, pasti ada akarnya. Rusuh monas fpi dan akkbp adalah kejadian. Kenapa bisa rusuh? Maka menyelesaikan masalah jangan reaksioner. Telusuri sebab musababnya. Satu, katanya ada provokator, dua, lambatnya pemerintah menyelesaikan ahmadiyah, bla bla bla.
Penyelesaian reaksioner dengan menangkapi fpi tidak akan menyelesaikan masalah, justru menggelinding masalah-masalah baru.
Ibarat kaki keseleo, bukan urat keseleonya yang pertama kali dipijat, melainkan urat-urat di sekelilingnya. Bahkan bisa jadi tempat yang keseleo tidak dipijat sama sekali, atau terakhir kali.
Hayo pemerintah. Sby dan jajarannya. Masa kalah dengan tukang pijit umi tetangga saya. :D

Sakit gigi   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 11:36 pm on Kamis, Juni 26, 2008

Terlihat mimik mukanya menahan sakit. Kenapa ustadz? Tanyaku. ‘iya nih, makanan dihidangkan begitu banyak, tapi gigi ini tidak bisa mengunyah. Bagaimana saya tidak bersyukur?’
Ternyata sang ustadz sedang sakit gigi. Tapi yang menarik adalah pernyataannya. Tidak ada keluhan, malahan syukur yang terucap. Kenapa? Karena Allah telah menghidangkan banyak makanan, walaupun diri tidak mampu melahap.

Cinta dan Pemberian

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 6:00 pm on Kamis, Juni 26, 2008

Allah sering menceritakan tentang ayat-ayat yang berbunyi wa lillahi mulkus samawati wal ardh 48:14. Dan milik Allah lah segala kerajaan langit dan bumi. Wa lillahi khozaa-inussamawati wal ardh 63:7. Dan milik Allah lah perbendaharaan langit dan bumi. Wa lillahi junudussamawati wal ardh 48:4. dan milik Allah lah tentara langit dan bumi.

Apa yang disampaikan oleh Allah SWT bahwa seluruh yang ada di dunia milik Dia sudah sering kita dengar. Ini adalah bagian dari aqidah yang harus kita percayai, bahwa itu benar adanya. Sedangkan kita, baik untuk diri kita maupun untuk perjuangan kita, untuk keluarga kita, untuk dakwah kita, sangat memerlukan semua apa yang disebutkan tadi.

Allah tidak akan memberi kepada orang-orang tertentu dan akan memberi kepada orang-orang tertentu. Maka kita harus tahu siapa orang-orang yang akan diberi oleh Allah. Sudah tentu yang pertama, orang-orang yang Dia beri adalah orang-orang yang Dia cintai. Allah akan mengasih juga kepada orang-orang yang dibenci, orang-orang kafir, orang-orang musyrikin, tapi dalam batasan tertentu. Tapi kepada orang yang Dia cintai, Allah akan memberikan segala-galanya. Itu sudah merupakan sebuah kepastian bahwa Allah akan memberikan segala-galanya kepada orang yang Dia cintai. Dan sifat itupun ada pada diri kita. Kalau ada orang yg kita cintai, maka semua yang kita miliki silahkan saja, dipakai, dinikmaiti dsb.

Untuk itu kita harus sering membaca ayat-ayat siapa saja yang dicintai oleh Allah. Umpamanya Allah mencintai ‘abdan syakuro (hamba yang paling pandai bersyukur), kita harus berusaha memahami syukur itu seperti apa. Allah mencintai orang yang sabar. Sabar yang dimaksudkan itu seperti apa. Allah tidak mencintai orang yang mukhtal (angkuh) dan fakhur (merasa besar/hebat).

Ada sejumlah ayat mengenai orang-orang yang dicintai dan ada sejumlah ayat mengenai orang-orang yang tidak dicintai. Orang-orang yang tidak dicintai ini karena sifat rahman Allah dikasih juga tapi limited, terbatas. Orang yang dicintai akan diberikan dan tidak terbatas.

Walaupun tetap saja Allah karena mencintai seseorang itu maka dia akan diberi sepanjang dia tidak akan jauh dari Allah. Kalau ternyata dengan pemberian membuat dia jauh dari Allah tapi tetap dikasih, namanya tidak cinta. Seperti kita mencintai istri kita, kita tidak akan membiarkan dia minta hal-hal yang justru membahayakan dia baik secara fikroh, aqidah, dll. Kita tidak akan kasih. Jangan. Nanti istri bisa begini begitu. Tapi kalau yang diminta hal-hal yang baik kita akan kasih semuanya.

Jadi kalau kita belum diberi, mungkin harapan kita yang belum dikabulkan oleh Allah itu justru membuat kita jadi jauh dari Dia. Maka kalau kita meminta sesuatu kepada Allah itu harus dipastikan bahwa ya Allah inipun kalau bisa mendekatkan aku kepadaMu, meningkatkan ibadahku dan kualitas agamaku, dan kebaikan duniaku dan akhiratku. Tapi kalau tidak, jauhkan dariku ya Allah.

Kalau meminta sesuatu kepada Allah adalah sesuatu yang justru membuat kita dekat dan membuat kita semakin menjalankan hal-hal yang Dia suka, yang Dia cintai. Tapi kalau orang-orang kafir, orang-orang yang memusuhi Allah, ya karena memang sudah dibenci, hampir semua yang dikasih menambah mereka tambah jauh. Gak dikasih tambah jauh, dikasih juga tambah jauh. :D

Kita harus objektif dalam hati kita harapan itu termasuk apa saja, fasilitas-fasilitas pribadi, atau keluarga, fasilitas perjuangan, capaian-capaian perjuangan, itu semuanya harus diukur bahwa kita adalah orang yang berusaha dicintai oleh Allah, dan kalau Allah tidak memberi sesuatu mungkin karena Allah takut kita semakin jauh.

Yang dicintai oleh Allah itu ada yang orientasinya ruhiyah, ubudiyah (ibadah), maidaniyah (lapangan, tataran aplikasi) dalam rangka memenuhi asbab kauniyah (sebab-sebab alam / sunnatullah). Sebab-sebab kauni itupun dicintai oleh Allah SWT. Ada perempuan yg berzina menjadi masuk sorga lantaran dia melakukan hal-hal yg dicintai oleh Allah. Dan dosanya dimaafkan, diampuni oleh Allah. Karena dia memberi minum anjing yang sedang kehausan dan mau mati. Dikasih minum dengan susah payah, anjingnya segar dan pergi. Dia menjadi masuk surga. Contoh lain Itqon (disiplin). Allah mencintai seorang hamba kalau bekerja atqonah atau ihsan (terbaik). Ini kan masalah-masalah maidani (lapangan, tataran aplikasi).

Kalau Allah sudah memberikan segala sesuatunya kepada kita… umpamanya alhilm (bijak, kalem, tenang, tidak emosional). Yu’til hilma ma la yu’til ghoirihi. Allah akan memberikan sesautu kepada orang yang halim yang tidak pernah diberikan kepada selainnya. Pemberian yang sangat istimewa, yang sangat spesial. Kita harus coba memenuhi diri kita dengan sifat-sifat yang dicintai oleh Allah SWT. Insya Allah, Allah akan kasih semuanya. Kalau ada yang kita harapkan belum diberikan mungkin faktor Allah takut, tidak mau kita menjadi jauh. Bukti cinta-Nya, kalau diberi malah semakin dekat.

Semoga kita menjadi salah satu dari hamba-hamba yang dekat dengan Allah, dan bisa menjalankan amanah dan tugas dari Allah, dan kita diberikan full facilities dari Allah untuk bisa menjalankan apa yg telah ditetapkan oleh Allah SWT.

Pencuri

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 12:48 am on Kamis, Juni 26, 2008

Seorang pencuri ingin taubat. Akhirnya dia bekerja pada orang yang telah dicurinya karena tidak bisa mengembalikan curiannya. Upahnya untuk menggantikan kerugian tuannya. Maka apakah tidak kurang ajar jika pencuri tersebut meminta upah dari kerjanya? Padahal bila seumur hidup dia bekerja pun, belum tentu hutangnya akan lunas.
Maka benarlah Umar ra, aku hanya ingin impas, tidak punya pahala dan juga dosa. Tapi, bila Umar amalnya saja demikian, bagaimana dengan nasibku? Maka pantaskah aku bermimpi syurga? Bukankah terhindar dari neraka saja sudah upah yang melebihi dari yang seharusnya aku terima? Apakah aku tidak malu meminta padahal hutangku masih menggunung?

Kezaliman   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 12:32 am on Kamis, Juni 26, 2008

Aku tidak mengerti kata lain bagi sebuah kezaliman kecuali keji. Keji, kejam layak disandingkan bagi orang yang berbuat zalim. Apalagi bila sampai merusak hidup seorang manusia. Bagaimana bila ia merusak lebih banyak lagi hidup orang. Apalagi bila mereka adalah justru orang yang mencintaimu. Seandainya ada yang bisa menebus sakit itu..
Seandainya aku bisa menggantikan sakit itu dan semua kembali seperti semula..

Sejenak saja   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 12:19 am on Kamis, Juni 26, 2008

Maafkan aku kekasihku. Kadang aku memang memikirkannya. Sebentar berkhayal. Berharap. Bermimpi.
Hanya sejenak. Setelah itu aku kembali menikmati indahnya medan juang.
Maafkan aku yang belum bisa menghilangkannya dari fikiranku.
Aku masih belajar, dan kelasku masih dasar dalam perjuangan ini.

Braveheart

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 12:11 am on Kamis, Juni 26, 2008

Film ini bisa menguras air mata para pria. Demikianlah yang aku baca dalam sebuah situs berita, film ini ada dalam list.
Aku sudah nonton film ini. Ceritanya tentang kepahlawanan orang skotland dalam melawan penjajah inggris. Tapi bukan jiwa kepahlawanan yang kurasakan, malah jiwa pengecut dan penghianatan yang sangat parah melanda skotland.
Pahlawannya adalah orang yg cuek dg kondisi bangsanya dan lari dari perjuangan walaupun ayahnya mati dalam dekapan perjuangan. Pahlawan ini baru bangkit setelah kekasihnya mati dibunuh penjajah. Alih2 aku merasakan dia membela bangsanya, perilakunya lebih pada aksi balas dendam semata.
Ditambah parahnya syahwat kekuasaan dan kekayaan yang menghinggapi petinggi negeri itu. Tidak ada rakyat di skotland. Yg ada hanya tuan tanah dan para budak.
Akhirmya perjuangan kemerdekaan kandas karena aura penghianatan yg sangat kental.
Bila aku orang skotland, sama sekali aku tidak bangga dengan film yg disanjung banyak orang. Mel gibson benar2 sukses menggarap kerapuhan jiwa bangsa eropa kala itu.

The bodyguard from beijing

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 11:45 pm on Rabu, Juni 25, 2008

One of my favorit movies. Kungfu master juga. Mencapai tujuan perjuangan seringkali tidak sejalan dengan keinginan pribadi. Bahkan sampai pada mengorbankan keinginan tersebut demi perjuangan. Pesan itu aku tangkap pula pada film kartun avatar book 2. Entah endingnya gimana, karena aku lom liat book 3nya.
Kehidupan cinta pribadi mereka kandas demi cinta perjuangan. Mereka berat melakukannya. Ada sesuatu yg hilang tapi akhirnya mereka melakukannya. Atas nama apapun, apakah negara, melawan penindasan dan kezaliman, membalas dendam, mewujudkan cita-cita atau sekedar profesionalitas.
Sahabat ra jg ada yg dikisahkan baru mengalami malam pertama indahnya pernikahan, syahid malam itu juga. Syuhada yang dimandikan malaikat. Ingat al ainul mardhiyyah? Bidadari untuk sahabat yg justru meninggalkan wanita idamannya sesaat sebelum akad karena kumandang jihad. Uang maharnya ditukar dg peralatan perang. Hal jaza-ul ihsan illal ihsan. 55:60
Serupa tapi tak sama. Serupa dalam pengorbanan cinta dan hidup dalam perjuangan. Tapi tak sama karena yang satu berjuang untuk tetap hidup bersama kekasih, yang lain berjuang untuk mati berjumpa kekasih.
Yang jelas aku faham bahwa diatas cinta masih ada cinta. Dapatkanlah cinta tertinggi, karena itulah cinta sejati. Cinta itulah jiwanya cinta, sehingga tumbuhlah cinta yg lain. Walladzina amanu asyaddu hubballillah. 2:165

Orang besar   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 6:55 pm on Selasa, Juni 24, 2008

Orang besar adalah orang yang terlepas fikirannya dari kebutuhannya sendiri dan mencurahkan segala fikirnya untuk orang lain. Semakin banyak kebaikan yang ditebar ke semakin banyak orang, semakin besarlah orang itu. Pegawai Allah adalah kumpulan orang2 besar walau sebagian besar mereka tidak dikenal oleh sebagian besar manusia. Kenapa? Karena pegawai Allah telah meletakkan kebutuhan dirinya diakhir listing prioritas pikirannya. Urusan-urusan Allah telah memenuhi jiwanya. Bukan berarti dia tidak punya kebutuhan. Kebesarannya terletak pada mendahulukan tugas dan kewajibannya. Bukan berarti dia tidak peduli pada kebutuhannya. Dia yakin Allahlah yang akan mengurusnya. Diserahkan semua urusannya dalam munajat2 kepada-Nya. Sedangkan dia, dia berfikir dan bekerja bagaimana bisa memberikan sumbangsih terbaik untuk Tuannya yang alladzi kholaqolmauta walhayata liyabluakum ayyukum ahsanu ‘amala. 67:2.

Pegawai Allah   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 6:40 pm on Selasa, Juni 24, 2008

Memaknai diri menjadi hamba itu susah susah gampang ( atau susah?). Bekerja untuk Allah itu dipahami tapi belum tentu dapat diimplementasikan utuh. Seorang ustadz pernah bilang, bekerjalah kamu ngurusin urusan Allah, nanti Allah yang akan urusin urusan (kebutuhan) kamu. Butuh tawakkal yang tinggi. Bayangkan, jika penugasan dakwah menuntut kita keluar kerja dan harus totalitas mengurus kafilah dakwah.. Apa jawaban kita disaat kerja kita sudah stabil dan mapan? Sanggupkah hidup kita mengikuti dinamika dakwah yang kadang nyaman tapi seringkali bertabur onak duri? Ya, tiada profesi yang mapan bagi da’i karena nahnu du’at qobla kulli syai’. Bermakna seluruh profesi digunakan untuk berdakwah.. Juga bermakna mengutamakan dakwah diatas profesi.. Juga bisa bermakna meninggalkan profesi demi dakwah jika perlu.. Tapi yang jelas, orang2 yang bekerja untuk-Nya, Dia tidak akan menyia-nyiakan mereka. Jika bekerja untuk manusia saja diberi gaji dan banyak fasilitas. Tentulah Allah dengan maha-Nya dalam keadilan dan kasih sayang akan jauh lebih besar dalam membayar pegawai-Nya.

Kebetulan-kebetulan   

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 6:21 pm on Selasa, Juni 24, 2008

Entahlah apa yang sedang terjadi. Adakah pesan dibalik kejadian sederhana yang kualami? Kalau memang tidak ada kebetulan di dunia ini, jangan sampai aku salah menangkap makna pesan. Ya sudahlah, semua kuserahkan saja pada-Nya. Karena memang tidak mungkin aku bertindak apapun terhadap apa yang kuinginkan. Sungguh rasa malu ini jauh lebih besar daripada mendapatkan apa yang kuinginkan. Mudah-mudahan rasa malu itu bagian dari iman dan pengabdianku pada-Mu ya Allah.

Kisah sebuah perjalanan

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — gusti at 3:49 pm on Kamis, Juni 19, 2008

Pegunungan itu amat kokoh dan gagah, tampak seolah-olah benteng yang teramat kuatnya, dengan pohon-pohon yang tumbuh subur dan lebatnya, membuat siapapun yang melihatnya seakan-akan terbang tinggi bebas lepas, apalagi sinar matahari yang menerobos melewati bayang-bayang dedaunan meninggalkan kesan yang dalam, indah, tentera, penuh suasana damai, sunyi-senyap dan tenang. Sepantasnya tempat seperti itu menjadi contoh penggambaran salah satu dari taman-taman surge.

Tak lama berselang, nampak beberapa pemuda berlari menerobos melewati lembah itu, entah sudah orang keberapa dari sejumlah orang yang telah melewatinya entah sejak kapan. Pemuda itu seperti yang lainnya berlari dengan wajah yang cerah, senyum yang seakan-akan tidak pernah lepas dari wajahnya menambah kegagahannya, tidak terlalu tampan juga tidak terlalu jelek, pakaiannya putih sederhana, sekilas tampak telah melakukan perjalanan yang teramat jauh. Peluh yang membasahi dahinya, goresan luka pada tangan dan kakinya sepertinya tidak dirasakannya, kiranya semangatnya itu telah melebihi dari kekuatan jasadnya. namun ada sedikit keganjilan pada jasadnya…ternyata pada kakinya nampak seperti orang yang cacat yang terlihat secara jelas ketika ia sedang berlari. Pemuda itu termenung menatap dirinya, kemudian terdengar suara dalam pikirannya yang halus hampir seperti berbisik,  ah…sudah hampir 30 tahun dia melakukan perjalanan itu, sudah banyak gunung dan lembah dia taklukan, lautan yang luas telah dia seberangi, tak terhitung jumlah goresan luka pada tubuhnya, entah berapa lama lagi ia harus melakukan perjalanan itu sebagai pembuktian kecintaannya pada sang kekasih tertinggi yang selama ini dirindukannya.

Tiba-tiba matanya menangkap sebuah bayangan tak jauh dari tempat ia berlari, dengan kesadarannya yang luar biasa dia menghampiri bayangan itu yang ternyata adalah selembar kertas yang sepertinya sengaja ditinggalkan untuk dirinya. Dengan perasaannya yang halus, dibacanya lembar kertas itu yang ternyata ditinggalkan oleh sahabatnya yang melakukan perjalanan seperti dirinya. Tiba-tiba ia tersenyum membayangkan sahabatnya itu, tidak seperti dirinya yang melakukan perjalanan panjang seorang diri, sahabatnya telah lama melakukan perjalanannya didampingi oleh pemudi yang menjadi belahan jiwanya. Sejenak timbul perasaan ingin seperti sahabatnya itu, betapa indahnya melakukan perjalanan bersama belahan jiwanya, ada perasaan aneh yang memenuhi hasrat jiwanya, namun cepat-cepat ia buyarkan pikiran itu untuk membaca apa pesan yang ditinggalkan sahabatnya itu. Ternyata seperti telah diduga sebelumnya sahabatnya ini telah menawarkan seorang gadis untuk menjadi pendamping perjalanannya itu, sekali lagi ia membaca ternyata ia tidak mengenal gadis itu. Terlukis senyum gembira pada wajah pemuda itu seakan-akan ia hendak berkata, “inilah dia orang yang dia cari itu”, memang selama ini ia mencari pendamping untuk melakukan perjalanan panjang itu dengan orang yang tidak ia kenal untuk menjaga perasaan cintanya yang murni dan menggebu-gebu kepada sang kekasihnya yang tertinggi yang selama ini ia rindukan siang dan malam itu. Pemuda itupun terduduk sambil berfikir panjang, memang sudah waktunya bagi dirinya untuk menyusul sahabat yang telah mendahuluinya itu tapi timbul keraguan pada wajah pemuda itu apakah layak gadis itu bersanding dengannya yang memiliki tubuh cacat itu sedang gadis itu memiliki fisik yang seperti orang kebanyakan. Ia tidak mau gadis itu menderita batin dikemudian hari karena keadaan dirinya, ia juga tidak mau gadis itu mendampinginya hanya karena kasihan melihat keadaan dirinya, ia bertekad kalaupun gadis itu mau bersama dirinya maka harus karena cinta pada dirinya karena Robbnya. Bukan karena wajahnya, ataupun yang lainnya. Ia tidak merasa bersalah dengan keadaan dirinya karena semua yang dialaminya merupakan pemberian dari kekasihnya yang tertinggi, ia sudah menerima itu sejak ia memiliki kesadaran sebagai seorang manusia yang menghamba kepada-Nya dan ia sangat yakin setibanya ia ditempat yang dituju itu dan bertemu dengan kekasihnya yang tertinggi, ia akan diberikan kaki yang lebih baik dari yang ia punya sekarang. Tiba-tiba pemuda itu meloncat dan kembali tersenyum, apa salahnya ia mencoba dulu, yang terpenting niatnya suci karena kekasihnya semata.

Kini proses itu sudah berjalan, dan ia percaya penuh dengan gadis yang dipercaya oleh sahabat dekatnya itu. Kalaupun akhirnya gadis itu menjadi pendampingnya maka hanya rasa syukur dan bahagia yang semakin menebal pada jiwanya, kalaupun tidak maka ia tidak akan mengurangi rasa syukur dalam dirinya dan ia akan bersabar serta menerima apapun keputusan gadis itu tanpa ada perasaan negative yang berlebihan. Sekarang pun ia sudah terkagum-kagum dengan sikap gadis itu yang mau melakukan proses itu bersamanya, sungguh benar-benar gadis yang hebat, lilihnya dalam getar suara. Sekarang ia hanya menanti keputusan besar itu dengan pikiran dan jiwa yang besar. Tak lama, kembali pemuda itu sudah berlari menyusuri gunung dan lembah itu dengan wajahnya yang cerah dan senyumnya yang seakan-akan tidak pernah meninggalkan wajah itu, sambil bergumam, “ah kekasihku yang tertinggi masih lamakah perjalanan ini, aku sudah teramat rindu untuk bersama-Mu disisi-Mu bersama orang yang kucintai karena-Mu, terasa lama…ah…terasa lama”. Pemuda itu melihat kesamping kanannya sambil tersenyum ternyata belum ada seorang gadis yang berada disampingnya, sambil berlari ia bergumam, “siapapun engkau yang akan mendampingiku, aku akan mencintaimu karena Robbku semata, mudah-mudahan tidak akan lama…”

Halaman Berikutnya »